• KEISLAMAN

Ilmu Nujum dalam Pandangan Islam, Antara Pengetahuan dan Kesyirikan

Yahya Sukamdani | Kamis, 13/11/2025
Ilmu Nujum dalam Pandangan Islam, Antara Pengetahuan dan Kesyirikan Ilustrasi peramal

Terasmuslim.com - Ilmu nujum atau astrologi merupakan keyakinan bahwa bintang dan pergerakannya dapat mempengaruhi nasib manusia. Dalam pandangan Islam, keyakinan semacam ini bertentangan dengan tauhid karena hanya Allah yang mengetahui hal-hal gaib. Allah berfirman dalam Surah An-Naml ayat 65: “Katakanlah: Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib kecuali Allah.” Ayat ini menegaskan bahwa pengetahuan tentang masa depan sepenuhnya berada di bawah kehendak Allah, bukan pada benda langit atau perhitungan manusia.

Rasulullah ﷺ juga memperingatkan umatnya agar tidak mempercayai para peramal atau ahli nujum. Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan: “Barang siapa mendatangi seorang peramal, lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.” Hadis ini menunjukkan betapa beratnya dosa mempercayai ramalan karena dapat menggeser keimanan seseorang dari kebergantungan kepada Allah menuju kepada makhluk ciptaan-Nya.

Namun demikian, Islam tidak melarang pengamatan terhadap bintang selama digunakan untuk tujuan yang bermanfaat, seperti menentukan arah kiblat atau waktu shalat. Dalam hal ini, ilmu astronomi (ilmu falak) dibedakan dari ilmu nujum karena didasarkan pada observasi ilmiah, bukan ramalan. Allah menjadikan bintang sebagai tanda bagi manusia, sebagaimana dalam Surah Al-An‘am ayat 97: “Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu dapat menjadikannya petunjuk dalam kegelapan daratan dan lautan.”

Dengan demikian, umat Islam hendaknya berhati-hati membedakan antara ilmu pengetahuan yang bermanfaat dan praktik yang mengandung unsur kesyirikan. Ilmu nujum yang bertujuan meramal nasib atau takdir termasuk perbuatan yang dilarang karena menyaingi kekuasaan Allah. Seorang Muslim hendaknya meneguhkan keyakinannya bahwa masa depan sepenuhnya berada di tangan Allah, dan cara terbaik untuk menghadapinya adalah dengan doa, ikhtiar, serta tawakal kepada-Nya.