Ilustrasi kaya dan miskin
Terasmuslim.com - Islam memandang kemalasan sebagai sifat tercela yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Orang yang malas enggan berusaha, padahal Allah ﷻ telah memerintahkan manusia untuk bekerja keras dalam mencari rezeki yang halal. Allah berfirman: “Dan Katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin...” (QS. At-Taubah: 105). Ayat ini menegaskan bahwa setiap amal dan usaha manusia akan dinilai, sehingga kemalasan berarti mengabaikan amanah kehidupan.
Rasulullah ﷺ juga banyak berdoa agar dijauhkan dari sifat malas. Beliau bersabda: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan...” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa malas bukan sekadar kelemahan fisik, melainkan penyakit hati yang dapat menghalangi seseorang dari ibadah, pekerjaan, dan tanggung jawab. Dengan malas, seseorang kehilangan kesempatan meraih keberkahan waktu dan rezeki.
Buah dari kemalasan tidak hanya tampak pada kemiskinan atau kegagalan, tetapi juga pada jauhnya hati dari keberkahan Allah. Seorang muslim yang malas akan sulit konsisten dalam ibadah, kurang produktif, dan akhirnya menyesal karena menyia-nyiakan nikmat waktu. Oleh karena itu, Islam mendorong umatnya untuk disiplin, rajin, dan selalu memohon pertolongan Allah agar dijauhkan dari sifat malas yang merugikan dunia dan akhirat.