• KEISLAMAN

Belajar Kepemimpinan dari Rasulullah SAW

Vaza Diva Fadhillah Akbar | Minggu, 31/08/2025
Belajar Kepemimpinan dari Rasulullah SAW Ilustrasi - lafadz Nabi Muhammad SAW (Foto: Pexels/Necati Ömer Karpuzoğlu)

Jakarta, Terasmuslim.com - Aksi demonstrasi yang belakangan marak di depan gedung DPR menjadi pengingat bahwa kepemimpinan bukanlah perkara ringan.

Rakyat menuntut agar para pemimpin benar-benar menjalankan tugasnya dengan jujur dan amanah. Dalam situasi seperti ini, umat Islam dapat bercermin pada sosok teladan utama: Rasulullah Muhammad SAW.

Rasulullah SAW tidak hanya dikenal sebagai utusan Allah, tetapi juga sebagai pemimpin umat yang berhasil membawa perubahan besar dengan cara yang bijaksana. Kepemimpinannya tidak dibangun dengan kekerasan, melainkan dengan keteladanan, kasih sayang, dan keadilan.

1. Kepemimpinan yang Amanah

Sebelum diangkat menjadi nabi, Rasulullah SAW sudah mendapat gelar Al-Amin (orang yang terpercaya). Gelar ini bukan karena jabatan, melainkan karena integritas beliau yang selalu jujur dalam ucapan dan perbuatan. Inilah dasar utama kepemimpinan dalam Islam: amanah.

Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا

"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya." (QS. An-Nisa: 58)

2. Mengutamakan Musyawarah

Rasulullah SAW selalu melibatkan para sahabat dalam mengambil keputusan penting. Saat Perang Uhud, misalnya, beliau menerima pendapat mayoritas meskipun berbeda dengan pendapat pribadinya. Dari sini umat belajar bahwa kepemimpinan bukan soal ego, melainkan kebersamaan.

3. Memimpin dengan Kasih Sayang

Rasulullah SAW bersabda:

"Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian, kalian mendoakan mereka dan mereka mendoakan kalian." (HR. Muslim).

Kepemimpinan yang penuh kasih sayang membuat umat merasa dilindungi, bukan ditakuti.

4. Tegas dalam Menegakkan Keadilan

Meski penuh kasih, Rasulullah SAW juga tegas dalam menegakkan keadilan. Beliau pernah menolak permohonan pembebasan hukuman terhadap seorang wanita bangsawan Quraisy yang mencuri. Beliau bersabda:

"Seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya." (HR. Bukhari dan Muslim).