• KEISLAMAN

Ulama Juga Bisa Salah, Ini Cara Bijak Menyikapinya Menurut Islam

Yahya Sukamdani | Kamis, 07/08/2025
Ulama Juga Bisa Salah, Ini Cara Bijak Menyikapinya Menurut Islam Ilustrasi ulama dan jamaah

Terasmuslim.com - Ulama merupakan pewaris para nabi dan penjaga ilmu-ilmu agama. Peran mereka sangat penting dalam membimbing umat menuju jalan kebenaran. Namun, sebagai manusia, ulama juga tak luput dari kesalahan. Lalu bagaimana Islam memandang kesalahan ulama? Haruskah diikuti, dibantah, atau bahkan dicela?

Islam memberikan panduan bijak dalam menyikapi kesalahan ulama, dengan tetap menempatkan adab dan ilmu sebagai dasar utama.

Ulama bisa salah, tapi tetap dimuliakan

Dalam Islam, ulama bukanlah makhluk yang ma’shum (terjaga dari dosa) seperti para nabi. Maka, kesalahan yang mungkin mereka lakukan bukan hal yang mustahil. Namun, kesalahan itu tidak serta-merta menghapus jasa dan kemuliaan mereka.

Imam Malik rahimahullah pernah berkata, “Setiap orang bisa diambil atau ditolak pendapatnya, kecuali penghuni kubur ini,” sambil menunjuk ke makam Nabi Muhammad ﷺ.

Bedakan antara kesalahan dan penyimpangan

Islam membedakan antara kesalahan ijtihadi (berdasarkan usaha memahami syariat) dan penyimpangan yang disengaja. Kesalahan ijtihadi bisa mendapat ampunan bahkan pahala, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

“Jika seorang mujtahid berijtihad lalu benar, maka ia mendapat dua pahala. Jika salah, maka ia tetap mendapat satu pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun jika ulama melakukan kesalahan fatal atau menyimpang dari prinsip Islam secara sadar dan terus-menerus, maka umat berhak mengoreksinya dengan adab dan dalil yang sahih.

Kritik dengan ilmu, bukan caci maki

Menyampaikan kritik terhadap ulama diperbolehkan dalam Islam, asal dilakukan dengan adab dan berdasarkan ilmu. Bukan dengan emosi, prasangka buruk, apalagi ujaran kebencian.

Imam Ahmad bin Hanbal sendiri pernah mengoreksi ulama di zamannya, namun tetap menjaga kehormatan mereka. Mengkritik isi, bukan menjatuhkan pribadi.

Taklid buta bukan solusi

Islam melarang taklid buta, yaitu mengikuti pendapat seseorang tanpa memahami dasar hukumnya. Al-Qur’an mengingatkan:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.”
(QS. Al-Isra: 36)

Umat Islam dianjurkan untuk memahami dalil dan bertanya kepada para ahli ilmu jika ada kebingungan, bukan hanya mengikuti nama besar semata.

Tetap menjaga adab kepada ulama

Meskipun seorang ulama berbuat salah, Islam tetap mengajarkan untuk tidak menjatuhkan kehormatannya di hadapan publik. Menghindari ghibah, fitnah, dan mempermalukan mereka adalah bagian dari akhlak Islam.

Nabi ﷺ bersabda, “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati orang tua, menyayangi anak kecil, dan tidak mengenal hak ulama kami.” (HR. Ahmad)

Menyikapi kesalahan ulama bukan berarti membenci atau meninggalkan mereka. Tapi juga bukan berarti membenarkan semua ucapan mereka tanpa pertimbangan. Islam mengajarkan umatnya untuk berpegang teguh pada kebenaran, sambil tetap menghormati para pembawa ilmu.

Ulama bisa salah, namun ilmu mereka tetap menjadi cahaya yang menerangi jalan umat. Selama ada ilmu dan adab, umat Islam akan tetap mampu bersikap adil dan bijak di tengah tantangan zaman.

Keywords :