• KEISLAMAN

Anak Menurut Alquran, Anugerah atau Ujian?

Agus Mughni Muttaqin | Rabu, 23/07/2025
Anak Menurut Alquran, Anugerah atau Ujian? Ilustrasi seorang ibu menyayangi anaknya (foto:posbekasi)

Terasmuslim.com - Anak merupakan anugerah paling indah yang dititipkan Allah SWT kepada manusia. Mereka hadir bukan hanya sebagai pelengkap keluarga, tetapi juga sebagai cermin masa depan dan ujian keimanan.

Di balik senyum dan tangis mereka, tersimpan amanah besar yang harus dijaga dengan sungguh-sungguh. Dalam Al-Qur’an, anak bukan hanya disebut sebagai nikmat, melainkan juga sebagai cobaan yang bisa membawa berkah atau bencana tergantung cara orang tua membesarkannya.

Dikutip dari laman Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, dalam banyak ayat Al-Qur’an disebutkan bahwa anak dapat menjadi penyejuk hati, perhiasan hidup, musuh, fitnah, bahkan penghalang ibadah. Setiap tipikal ini memiliki makna yang dalam dan menjadi cermin kondisi keluarga masa kini.

Salah satu tipe anak yang paling didambakan adalah qurrata a’yun atau penyejuk hati. Allah berfirman dalam surat Al-Furqan ayat 74:

“Ya Tuhan kami, anugerahilah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”

Anak yang menjadi qurrata a’yun bukan hanya menghadirkan ketenangan jiwa bagi orang tuanya, tetapi juga tumbuh sebagai pribadi yang taat dan membawa keberkahan. Dalam Tafsir Muqatil bin Sulaiman, anak semacam ini adalah mereka yang saleh, berbakti, dan hidup dalam kebaikan.

Namun tidak semua anak otomatis menjadi penyejuk hati. Mereka perlu dibimbing dengan pendidikan, keteladanan, dan kasih sayang yang berlandaskan keimanan. Tanpa itu, anak bisa berubah menjadi sekadar perhiasan dunia yang memukau namun semu.

Allah menegaskan dalam surat Al-Kahfi ayat 46 bahwa:

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan yang kekal lagi saleh lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik untuk menjadi harapan.”

Dalam kehidupan modern, anak sering dijadikan kebanggaan sosial—ditampilkan di media sosial, dilengkapi dengan fasilitas mewah, namun minim bekal nilai spiritual. Ketika nilai duniawi lebih diutamakan dari nilai akhirat, maka anak sebagai perhiasan menjadi rapuh dan tidak membawa manfaat abadi.

Bahkan dalam kondisi tertentu, anak bisa menjadi musuh bagi orang tuanya. Allah memperingatkan dalam surat At-Taghabun ayat 14:

“Hai orang-orang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah terhadap mereka...”

Permusuhan yang dimaksud tidak selalu berupa kebencian terang-terangan. Kadang ia hadir dalam bentuk konflik nilai, ketegangan emosional, hingga kedurhakaan yang lahir dari kurangnya komunikasi dan keteladanan di rumah.

Anak yang tumbuh tanpa arahan bisa membawa luka dalam keluarga. Mereka tidak hanya mengabaikan agama, tetapi juga melawan prinsip kebaikan yang seharusnya dijaga bersama.

Lebih jauh dari itu, Al-Qur’an juga menyebut anak sebagai fitnah atau ujian. Dalam surat At-Taghabun ayat 15 disebutkan:

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.”

Cobaan ini bisa datang dalam berbagai bentuk. Ada orang tua yang terlalu larut dalam ambisi duniawi demi masa depan anak, hingga melupakan tanggung jawab ibadah dan nilai moral. Ada pula anak-anak yang justru menjadi beban karena menuntut lebih dari batas kemampuan orang tua.

Ujian ini menuntut kesabaran dan kebijaksanaan. Islam mengajarkan bahwa mendidik anak bukan hanya soal memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga memastikan mereka tumbuh dalam cahaya tauhid.

Namun kenyataannya, banyak orang tua yang terjebak pada prioritas dunia. Akibatnya, mereka melalaikan kewajiban spiritual dan membiarkan anak menjadi alasan untuk menjauh dari Allah.

Dalam surat Al-Munafiqun ayat 9, Allah memberi peringatan yang tegas:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Siapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.”

Ayat ini menampar realita banyak keluarga. Anak yang seharusnya menjadi motivasi untuk mendekat kepada Allah justru menjadi penghalang jalan ibadah karena kesibukan dunia yang berlebihan.

Padahal dalam Islam, anak tidak hanya dinilai dari keberhasilannya di dunia, tetapi dari sejauh mana mereka menjadi jembatan menuju surga. Anak yang sholeh dan sholihah akan menjadi amal jariyah, bukan sekadar status sosial.

Allah menunjukkan contoh doa yang dipanjatkan Nabi Ibrahim dalam surat Ash-Shaffat ayat 100:

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.”

Doa ini menjadi teladan bagi setiap orang tua Muslim. Mendoakan anak bukanlah pelengkap ibadah, melainkan bentuk kesadaran bahwa hanya Allah yang bisa membentuk hati mereka.

Seiring dengan itu, orang tua juga perlu berikhtiar mendidik anak dengan teladan hidup. Bukan hanya menyuruh shalat, tetapi menunjukkan bagaimana shalat dijalankan. Bukan sekadar menyuruh membaca Al-Qur’an, tetapi mencintainya bersama.

Membentuk anak menjadi penyejuk hati memang tidak mudah. Namun lebih berat lagi jika mereka menjadi fitnah atau musuh yang menyeret orang tua pada penyesalan dunia dan akhirat.

Di sinilah pentingnya menyadari bahwa setiap anak adalah ladang pahala sekaligus potensi cobaan. Orang tua Muslim harus siap mengarungi keduanya dengan iman yang kokoh dan ilmu yang cukup.

Karena pada akhirnya, mendidik anak bukan hanya tugas, tapi jalan panjang menuju surga. Sebuah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Dan sebuah nikmat yang akan menjadi bukti, apakah kita layak disebut sebagai hamba yang bersyukur. (*)

Wallohu`alam