Buya Yahya (Foto: liputan6)
Jakarta, Terasmuslim.com - Dalam salah satu kajian terbarunya, KH Yahya Zainul Ma`arif atau Buya Yahya menyoroti betapa berbahayanya sifat pelit, bukan hanya bagi hubungan sosial, tetapi juga bagi perkembangan karakter seseorang.
Menurutnya, pelit bukan sekadar kebiasaan buruk, tapi juga seperti penyakit menular yang tanpa sadar bisa memengaruhi orang di sekitarnya.
"Kalau sering duduk dengan orang pelit, lama-lama kita ikut pelit," ujar Buya Yahya, dikutip dari kanal YouTube @buyayahyaofficial pada Sabtu (19/7).
Awalnya mungkin seseorang merasa janggal melihat temannya tak mau berbagi, tapi seiring waktu, ia bisa ikut terbiasa dan menirunya. Fenomena ini, menurut Buya, perlahan mengikis nilai kebaikan dan kepedulian dalam diri seseorang.
Tak hanya berdampak sosial, sifat pelit juga membawa pengaruh spiritual. Buya Yahya mengingatkan, sifat ini dekat dengan bisikan setan, yang ujungnya menjauhkan manusia dari rahmat Allah.
Sebaliknya, berada di lingkungan orang-orang dermawan justru akan mendorong hati untuk ikut berbagi dan berbuat baik.
Buya juga mengajak para orang tua untuk mendidik anak-anak mereka agar gemar berbagi, namun tetap dengan bijak. Anak perlu diajarkan prinsip sedekah yang benar, bukan sekadar menghabiskan uang tanpa tanggung jawab.
"Jangan sampai uang orang tua habis karena dibagi sembarangan. Harus ada ilmunya," pesan Buya.
Menurutnya, membentuk pribadi anak yang seimbang, tidak pelit tapi juga tidak boros adalah kunci penting untuk masa depan mereka.
Kebiasaan berbagi sebaiknya dimulai dari hal-hal sederhana, seperti membiasakan anak menawarkan makanan atau membantu teman.
Di akhir pesannya, Buya Yahya mengingatkan, jika sifat pelit dibiarkan tumbuh sejak kecil, besar kemungkinan akan terbawa hingga dewasa, membuat seseorang sulit menolong dan enggan memberi.
Nilai sosial dalam ajaran Islam, kata beliau, adalah bagian dari jalan menuju kebaikan, bukan hanya untuk hubungan dengan Allah, tetapi juga untuk membangun kepedulian antar sesama.