Ilustrasi bertamu (Foto: AI)
Terasmuslim.com - Bertamu dalam Islam bukan sekadar silaturahmi biasa. Ia adalah adab yang penuh nilai, menyangkut etika, hak pribadi, dan penghormatan terhadap waktu. Islam, sebagai agama yang syamil (menyeluruh), telah menetapkan aturan dan tata krama bagi siapa pun yang hendak berkunjung ke rumah saudaranya.
Dari cara mengetuk pintu, waktu yang layak, hingga bagaimana bersikap saat bertamu semuanya ada tuntunannya dalam syariat. Islam tidak ingin silaturahmi berubah jadi gangguan, apalagi pelanggaran privasi.
Waktu bertamu yang dianjurkan
Allah ﷻ telah memberikan petunjuk dalam Al-Qur’an bahwa ada waktu-waktu yang sebaiknya dihindari untuk masuk atau bertamu, yakni saat-saat privasi keluarga sangat dijaga.
"Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budakmu dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu meminta izin kepadamu tiga kali (dalam satu hari): sebelum salat Subuh, ketika kamu menanggalkan pakaianmu di tengah hari (waktu istirahat), dan sesudah salat Isya. Itulah tiga waktu aurat bagi kamu."
(QS. An-Nur: 58)
Dari ayat ini, para ulama menyimpulkan bahwa waktu yang tidak dianjurkan untuk bertamu adalah:
Waktu yang lebih tepat untuk bertamu:
Namun, tetap perlu konfirmasi terlebih dahulu apakah tuan rumah siap menerima tamu, apalagi di zaman sekarang yang lebih padat aktivitas.
Adab bertamu sesuai tuntunan Islam
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Jika salah seorang dari kalian meminta izin tiga kali lalu tidak diizinkan, maka hendaklah ia kembali."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Bertamu tanpa izin atau memaksa masuk ke rumah orang lain dilarang keras dalam Islam.
Dilarang keras memandang ke dalam rumah sebelum diizinkan. Nabi ﷺ bahkan pernah bersabda:
"Jika seseorang mengintip ke rumah orang lain tanpa izin, maka si pemilik rumah boleh membutakan matanya."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Tamu tidak boleh sembarangan masuk dan duduk di sembarang tempat. Hormatilah tata ruang rumah orang lain. Dalam budaya Islam, tuan rumah yang menentukan posisi tamu.
Bertamu hendaknya tidak terlalu lama jika tidak ada keperluan penting. Rasulullah ﷺ menganjurkan tamu untuk tidak memberatkan:
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya selama tiga hari. Hari pertama adalah hak, selebihnya adalah sedekah."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Artinya, jangan membuat tuan rumah merasa tidak enak untuk menyuruh pulang.
Sopan santun berpakaian dan berkata-kata adalah ciri utama tamu yang baik. Hindari pembicaraan menyakitkan, membuka aib, atau sikap yang tidak menyenangkan.
Rasulullah ﷺ mengajarkan doa bagi orang yang menjamu tamu:
“Allahumma barik lahum fima rozaqtahum, waghfir lahum, warhamhum”
(Ya Allah, berkahilah rezeki mereka, ampunilah mereka, dan rahmatilah mereka.)
(HR. Muslim)
Islam memuliakan silaturahmi, tapi dengan batasan adab yang jelas dan santun. Bertamu bukan hanya soal hubungan sosial, tapi juga penerapan akhlak dan adab Islami. Tamu yang baik akan memperhatikan: Waktu yang tepat, Sikap yang sopan, Tidak memaksa, Tidak memberatkan. Dengan begitu, silaturahmi menjadi berkah, bukan beban.