• KEISLAMAN

Perlu tahu Adab Bertamu dan Waktu yang Tepat Menurut Ajaran Islam

Yahya Sukamdani | Jum'at, 13/06/2025
 Perlu tahu Adab Bertamu dan Waktu yang Tepat Menurut Ajaran Islam Ilustrasi bertamu (Foto: AI)

Terasmuslim.com - Bertamu dalam Islam bukan sekadar silaturahmi biasa. Ia adalah adab yang penuh nilai, menyangkut etika, hak pribadi, dan penghormatan terhadap waktu. Islam, sebagai agama yang syamil (menyeluruh), telah menetapkan aturan dan tata krama bagi siapa pun yang hendak berkunjung ke rumah saudaranya.

Dari cara mengetuk pintu, waktu yang layak, hingga bagaimana bersikap saat bertamu semuanya ada tuntunannya dalam syariat. Islam tidak ingin silaturahmi berubah jadi gangguan, apalagi pelanggaran privasi.

Waktu bertamu yang dianjurkan

Allah ﷻ telah memberikan petunjuk dalam Al-Qur’an bahwa ada waktu-waktu yang sebaiknya dihindari untuk masuk atau bertamu, yakni saat-saat privasi keluarga sangat dijaga.

"Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budakmu dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu meminta izin kepadamu tiga kali (dalam satu hari): sebelum salat Subuh, ketika kamu menanggalkan pakaianmu di tengah hari (waktu istirahat), dan sesudah salat Isya. Itulah tiga waktu aurat bagi kamu."
(QS. An-Nur: 58)

Dari ayat ini, para ulama menyimpulkan bahwa waktu yang tidak dianjurkan untuk bertamu adalah:

  • Sebelum Subuh
  • Sekitar waktu Zuhur (istirahat siang)
  • Setelah Isya (malam hari menjelang tidur)

Waktu yang lebih tepat untuk bertamu:

  • Pagi menjelang siang (sekitar jam 09.00–11.30)
  • Setelah Ashar hingga sebelum Magrib

Namun, tetap perlu konfirmasi terlebih dahulu apakah tuan rumah siap menerima tamu, apalagi di zaman sekarang yang lebih padat aktivitas.

Adab bertamu sesuai tuntunan Islam

  1. Meminta izin dan mengetuk pintu

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Jika salah seorang dari kalian meminta izin tiga kali lalu tidak diizinkan, maka hendaklah ia kembali."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Bertamu tanpa izin atau memaksa masuk ke rumah orang lain dilarang keras dalam Islam.

  1. Tidak mengintip atau mengintai

Dilarang keras memandang ke dalam rumah sebelum diizinkan. Nabi ﷺ bahkan pernah bersabda:

"Jika seseorang mengintip ke rumah orang lain tanpa izin, maka si pemilik rumah boleh membutakan matanya."
(HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Duduk di tempat yang diberi

Tamu tidak boleh sembarangan masuk dan duduk di sembarang tempat. Hormatilah tata ruang rumah orang lain. Dalam budaya Islam, tuan rumah yang menentukan posisi tamu.

  1. Tidak terlalu lama

Bertamu hendaknya tidak terlalu lama jika tidak ada keperluan penting. Rasulullah ﷺ menganjurkan tamu untuk tidak memberatkan:

"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya selama tiga hari. Hari pertama adalah hak, selebihnya adalah sedekah."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya, jangan membuat tuan rumah merasa tidak enak untuk menyuruh pulang.

  1. Berpakaian sopan dan menjaga lisan

Sopan santun berpakaian dan berkata-kata adalah ciri utama tamu yang baik. Hindari pembicaraan menyakitkan, membuka aib, atau sikap yang tidak menyenangkan.

  1. Mendoakan tuan rumah

Rasulullah ﷺ mengajarkan doa bagi orang yang menjamu tamu:

“Allahumma barik lahum fima rozaqtahum, waghfir lahum, warhamhum”
(Ya Allah, berkahilah rezeki mereka, ampunilah mereka, dan rahmatilah mereka.)
(HR. Muslim)

Islam memuliakan silaturahmi, tapi dengan batasan adab yang jelas dan santun. Bertamu bukan hanya soal hubungan sosial, tapi juga penerapan akhlak dan adab Islami. Tamu yang baik akan memperhatikan: Waktu yang tepat, Sikap yang sopan, Tidak memaksa, Tidak memberatkan. Dengan begitu, silaturahmi menjadi berkah, bukan beban.

Keywords :