Ilustrasi Khalid bin Walid sebagai panglima perang Muslim yang dulunya dikenal sebagai preman Arab (Foto:sindonews)
Jakarta, Terasmuslim.com - Sejarah mencatat bahwa perilaku yang identik dengan premanisme sudah muncul jauh sebelum era modern. Bahkan pada masa Nabi Muhammad SAW, telah dikenal sosok-sosok dengan karakter keras, tegas, dan dominan.
Ciri-ciri yang sering diasosiasikan dengan preman dalam konteks kekinian. Salah satu tokoh yang sering disebut dalam kisah klasik Islam adalah Umar bin Khattab.
Sebelum memeluk Islam, Umar dikenal sebagai pribadi yang keras dan ditakuti oleh banyak orang di Makkah. Namun, setelah masuk Islam, ia mengalami perubahan besar dan menjadi salah satu pemimpin utama dalam sejarah Islam, terkenal karena keadilan dan ketegasannya dalam menegakkan nilai-nilai kebenaran.
Kisah lain datang dari Khalid bin Walid. Sebelum menjadi bagian dari umat Islam, ia merupakan panglima perang tangguh dari kaum Quraisy. Keberaniannya dalam pertempuran menjadikannya salah satu figur paling disegani di medan laga.
Akan tetapi, setelah memeluk Islam, energi dan kekuatannya digunakan untuk membela agama, menjadikannya simbol transformasi dari kekuatan destruktif menjadi kekuatan pelindung.
Transformasi semacam ini menjadi bukti bahwa karakter keras dan dominan tidak selalu berujung pada perilaku negatif. Dalam banyak kasus, nilai-nilai agama dan moralitas mampu mengubah arah hidup seseorang, bahkan yang paling keras sekalipun.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa premanisme bukan semata-mata masalah perilaku sosial, melainkan juga persoalan arah dan tujuan hidup. Sejarah memberikan banyak contoh bahwa seseorang dengan latar belakang keras sekalipun bisa menjadi pelindung masyarakat jika diberi ruang untuk berubah dan berkembang.
Dalam konteks ini, Islam hadir tidak hanya sebagai agama, tetapi juga sebagai sistem nilai yang mampu menuntun siapa pun, tanpa memandang latar belakang menuju kehidupan yang lebih baik.