• KEISLAMAN

Bahagia Lihat Tetangga Haji, Pahalanya Surga

Vaza Diva Fadhillah Akbar | Kamis, 01/05/2025
Bahagia Lihat Tetangga Haji, Pahalanya Surga Ilustrasi Walimatus Safar Haji yang menjadi tradisi masyarakat Indonesia (Foto: persisorid)

Terasmuslim.com - Setiap musim haji, suasana haru dan bahagia selalu mengiringi pelepasan calon jemaah di berbagai daerah. Doa dan tangisan harapan mewarnai momen sakral tersebut. Namun, di balik keramaian itu, masih banyak hati yang diam-diam menahan perih karena belum diberi kesempatan untuk berangkat ke Tanah Suci.

Dalam situasi semacam ini, para mubaligh sering kali diminta untuk menyampaikan doa dan nasihat sebelum keberangkatan. Sayangnya, tidak semua penceramah mampu memilih kata-kata yang merangkul semua kalangan, termasuk mereka yang belum mampu berhaji.

KH Ahmad Bahauddin Nursalim, atau lebih dikenal sebagai Gus Baha, menyoroti hal tersebut dalam salah satu ceramahnya. Ia mengajak para dai agar lebih bijaksana saat menyampaikan doa dan ceramah di hadapan masyarakat yang beragam kondisinya.

“Saat melepas jemaah haji, saya tetap memperluas doa, karena di antara hadirin banyak juga yang tidak berangkat. Ada yang belum mampu, ada yang masih menunggu giliran,” kata Gus Baha seperti dikutip dari kanal YouTube @QuotesIslami313 pada Minggu (27/4/2025).

Menurutnya, doa seharusnya tak terbatas hanya untuk jemaah yang berangkat. Justru, momen itu bisa menjadi kesempatan untuk menyemangati dan menyapa hati mereka yang hanya bisa mengantar dengan ikhlas.

“Yang haji mabrur balasannya surga. Tapi yang tidak haji, jika sholatnya khusyuk, sedekahnya tulus, merawat anak dengan sabar, semua itu juga bisa menghantarkan ke surga,” ujarnya penuh kasih.

Gus Baha menyampaikan bahwa tidak berhaji bukan berarti kurang mulia. Setiap amal yang dilakukan dengan niat tulus dan ikhlas tetap bernilai tinggi di hadapan Allah. Bahkan, sekadar ikut senang atas keberangkatan orang lain ke Baitullah juga mendatangkan pahala.

“Orang yang ikut bahagia karena tetangganya haji, itu juga bentuk ibadah. Allah Maha Tahu isi hati manusia,” lanjutnya.

Namun demikian, ia mengkritik gaya sebagian mubaligh yang terlalu melebih-lebihkan cerita tentang kemuliaan haji, hingga tanpa sadar meninggalkan kesan bahwa hanya yang berhaji yang istimewa.

“Kadang mubalighnya semangat banget cerita soal Multazam, Hajar Aswad, sampai yang mendengar merasa tersisih,” selorohnya sambil tertawa kecil. Ia bahkan menyinggung bahwa kadang semangat berlebih itu muncul karena ingin menyenangkan pihak yang mengundangnya.

Menurut Gus Baha, dakwah seharusnya tidak menciptakan jurang pemisah, tetapi merangkul semua. Tugas penceramah adalah menjaga hati umat, termasuk mereka yang secara ekonomi tidak mampu berhaji.

“Fakir miskin juga punya hati. Jangan sampai ibadah yang semestinya membawa berkah justru meninggalkan luka batin,” pesannya.

Ia menegaskan, keberkahan ibadah bukan hanya soal syarat dan rukunnya, melainkan juga dampak sosialnya. Islam tidak pernah memuliakan seseorang semata karena status sosial atau kemampuan finansial.

Haji itu bukan simbol status. Itu ibadah. Yang lebih penting adalah keikhlasan dalam beribadah, apapun bentuknya,” ujarnya dengan tegas.

Gus Baha pun menutup ceramahnya dengan ajakan untuk menciptakan suasana keberangkatan haji yang penuh kebersamaan. Bukan hanya sebagai momen pelepasan, tapi juga sebagai momentum untuk memperkuat ukhuwah dan empati.

“Kalau kita bisa membahagiakan banyak orang, mengapa kebahagiaan hanya dibatasi untuk mereka yang berangkat?” pungkasnya.

 

Keywords :