Yahya Sukamdani | Rabu, 30/04/2025
Ilustrasi jenggot dan kumis
Terasmuslim.com - Memelihara jenggot dan merapikan kumis bukan hanya masalah penampilan, tetapi bagian dari ketaatan kepada sunnah Nabi ﷺ dan identitas seorang Muslim. Namun dalam penerapannya, umat Islam juga dianjurkan untuk melakukannya dengan penuh hikmah, tidak berlebihan, dan tetap menjaga kebersihan serta kesopanan dalam berpenampilan. Berikut penjelasannya :
- Memanjangkan Jenggot
Boleh, bahkan dianjurkan (disunnahkan) dalam Islam untuk memanjangkan jenggot.
- Ini berdasarkan perintah Rasulullah ﷺ dalam banyak hadits:
"Waffirû al-lihâ wa ahfû asy-syawarib"
(Panjangkanlah jenggot dan pendekkanlah kumis). (HR. Bukhari dan Muslim)
- Mayoritas ulama (Hanafi, Maliki, Syafi`i, Hanbali) menyatakan memelihara jenggot itu bagian dari sunnah Nabi dan identitas Muslim.
Batasannya:
- Jika jenggot sangat panjang (melebihi satu genggaman tangan), boleh dirapikan.
- Abdullah bin Umar radhiyallahu `anhuma, sahabat Nabi, merapikan jenggotnya seukuran genggaman (HR. Bukhari).
- Artinya: memanjangkan jenggot boleh tetapi tidak berlebihan sampai terkesan kotor atau tidak terawat.
- Memanjangkan Kumis
Tidak boleh memanjangkan kumis dalam Islam.
- Nabi ﷺ secara khusus melarang membiarkan kumis panjang.
- Hadits:
"Ikhfa`u asy-syawarib wa ahfû al-lihâ"
(Pendekkanlah kumis dan panjangkanlah jenggot). (HR. Muslim)
- Kumis harus dipotong pendek atau ditipiskan,sebab:
- Kumis yang panjang bisa mengotori makanan/minuman.
- Kumis panjang menyerupai kebiasaan kaum Majusi (penyembah api) pada masa Rasulullah ﷺ.
- Islam memerintahkan kebersihan dan penampilan yang baik.
Cara sesuai sunnah:
- Menipiskan kumis (bukan memanjangkannya).
- Boleh mencukur habis kumis menurut sebagian ulama, tetapi lebih utama hanya menipiskan.