Ilustrasi (Foto: kompas)
Terasmuslim.com - Peringatan Hari Kartini setiap 21 April selalu menjadi momen penting untuk menghormati perjuangan R.A. Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan di Indonesia. Salah satu cara yang paling umum dilakukan adalah dengan mengenakan kebaya, busana klasik yang lekat dengan citra perempuan Jawa yang anggun.
Tradisi mengenakan kebaya kini semakin populer, tak hanya di lingkungan sekolah dan instansi pemerintahan, tapi juga di komunitas-komunitas budaya serta dunia fashion. Di media sosial, kebaya tampil dalam berbagai model, dari yang tradisional hingga modern sebagai bentuk ekspresi cinta pada warisan budaya.
Namun, di tengah kemeriahan fashion berkebaya, penting bagi kaum Muslimah untuk tetap memperhatikan kaidah berpakaian yang diajarkan dalam Islam.
Islam tidak mewajibkan bentuk pakaian tertentu, tapi menetapkan prinsip-prinsip umum berpakaian yang sesuai syariat. Artinya, umat Islam diberi kebebasan untuk berinovasi dalam berpakaian selama tetap mengikuti etika berpakaian yang islami.
Menurut almarhum KH Ali Mustafa Yaqub, ada empat syarat berpakaian dalam Islam yang harus diperhatikan, yakni 4T: tidak terbuka, tidak transparan, tidak ketat, dan tidak menyerupai lawan jenis.
Bagi Muslimah yang ingin tampil anggun dengan kebaya, penting untuk memperhatikan aspek-aspek ini. Memilih kebaya yang menutup aurat, tidak terlalu ketat, serta tidak menerawang adalah bentuk ketaatan yang sejalan dengan semangat Kartini dalam memuliakan perempuan.
Acara-acara peragaan busana yang digelar untuk memperingati Hari Kartini pun hendaknya tetap memperhatikan norma agama. Mode bisa terus berkembang, tapi etika berpakaian dalam Islam adalah prinsip yang tak lekang oleh waktu.
Dengan demikian, kebaya tak hanya menjadi simbol budaya, tapi juga bisa menjadi sarana memperkuat identitas Muslimah yang elegan dan taat.