• KEISLAMAN

Belajar Agama Tanpa Guru, Ini Bahayanya

Vaza Diva Fadhillah Akbar | Minggu, 06/04/2025
Belajar Agama Tanpa Guru, Ini Bahayanya Ilustrasi belajar Islam melalui internet (Foto: Pexels)

Terasmuslim.com - Di tengah derasnya arus informasi dan kemajuan teknologi, fenomena minimnya orang-orang yang berpegang teguh pada kebenaran menjadi tantangan tersendiri bagi umat Islam. Di era digital ini, banyak yang lebih memilih mencari ilmu secara instan, tanpa bimbingan dari guru yang mumpuni dalam agama.

Buya Yahya, seorang ulama yang dikenal dengan gaya dakwah yang lembut namun mengena, mengingatkan bahwa fenomena berkurangnya orang yang benar-benar lurus dalam ilmu dan amal bukanlah hal sepele. Dalam ceramahnya yang diunggah di kanal YouTube @buyayahyaofficial, ia menekankan pentingnya kehati-hatian dalam menyerap ilmu agama.

“Sekarang ini, orang yang benar semakin sedikit. Maka dari itu, dalam mencari kebenaran pun harus benar-benar selektif,” ujar Buya Yahya.

Ia menyayangkan maraknya kebiasaan masyarakat yang lebih percaya pada pencarian cepat melalui internet daripada belajar dari guru yang jelas sanad keilmuannya. Menurutnya, ilmu agama tidak cukup hanya dicari lewat mesin pencari atau media sosial tanpa pendampingan dari orang yang paham betul dasar dan dalilnya.

“Jangan pernah meremehkan nilai ilmu hanya karena merasa melek teknologi. Ilmu agama butuh proses dan bimbingan, bukan sekadar klik dan baca,” lanjutnya.

Buya Yahya menyoroti bahaya ketika umat mulai jauh dari para ulama, apalagi jika merasa cukup hanya dengan mendengar ceramah dari potongan-potongan video. Tanpa guru yang membimbing secara langsung, pemahaman terhadap agama sangat rawan disalahartikan.

Ia mengingatkan bahwa keberkahan ilmu tidak datang dari seberapa banyak yang dibaca, tetapi dari siapa dan bagaimana kita mempelajarinya. Menurutnya, ilmu tidak sekedar dipahami secara tekstual, namun juga secara kontekstual dan penuh hikmah.

“Jika hubungan dengan guru putus, maka keberkahan dalam ilmu pun terputus,” katanya.

Buya juga mengingatkan pentingnya adab dalam mencari ilmu. Sikap tawadhu dan hormat terhadap guru menjadi kunci utama dalam menjaga keberkahan ilmu. Ia mengajak umat Islam untuk tidak meremehkan para alim ulama hanya karena mereka tidak tampil seatraktif tokoh-tokoh yang biasa viral di media sosial.

“Kadang seorang alim tidak langsung menjawab, bukan karena tak tahu, tapi karena ingin menyampaikan dengan hati-hati agar tidak menimbulkan salah paham,” ujarnya.

Di zaman ini, tidak sedikit orang yang hanya mencari pendapat yang sesuai dengan keinginannya, bukan lagi mencari kebenaran yang sejati. Padahal, menuntut ilmu agama adalah upaya mencari ridha Allah, bukan sekadar memperkuat ego pribadi.

Buya Yahya menegaskan, tanpa adanya guru yang membimbing, seseorang akan lebih mudah terjebak dalam pemikiran yang menyimpang. Ia mengajak umat untuk kembali menjalin hubungan yang baik dengan para ulama dan guru-guru agama, serta memperkuat adab dalam menuntut ilmu.

Dengan sikap ini, ilmu yang didapat bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga memberi cahaya kehidupan di dunia dan akhirat.