Ilustrasi foto jalan dunia dan surga
Terasmuslim.com - Fenomena “hafal jalanan dunia tapi buta jalan ke surga” adalah gambaran nyata kondisi banyak manusia. Mereka sangat memahami urusan pekerjaan, bisnis, dan kesenangan dunia, namun asing dengan jalan ibadah dan ketaatan. Allah ﷻ berfirman: “Mereka mengetahui yang lahir dari kehidupan dunia, tetapi mereka lalai tentang kehidupan akhirat.” (QS. Ar-Rum: 7). Ayat ini menegaskan bahwa kecerdasan duniawi tidak menjamin keselamatan akhirat jika tidak dibarengi iman dan amal shalih.
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahwa dunia sering melalaikan manusia dari tujuan sejatinya. Beliau bersabda: “Dunia itu manis dan hijau, dan Allah menjadikan kalian sebagai pengelola di dalamnya, lalu Dia akan melihat bagaimana kalian berbuat.” (HR. Muslim). Hadits ini menunjukkan bahwa dunia adalah ujian, bukan tujuan. Ketika seseorang sibuk menghafal “peta dunia”, tetapi lupa belajar “peta menuju surga”, maka ia telah tertipu oleh gemerlap kehidupan sementara.
Al-Qur’an menjelaskan bahwa jalan menuju surga bukanlah jalan mengikuti hawa nafsu, melainkan jalan ketaatan dan petunjuk Allah. “Dan bahwa inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am: 153). Ayat ini menegaskan bahwa jalan ke surga itu jelas, tetapi membutuhkan kesungguhan untuk dipelajari dan diamalkan, bukan sekadar diketahui.
Karena itu, orang beriman dituntut menyeimbangkan ilmu dunia dengan ilmu akhirat. Menghafal jalan dunia tanpa mengenal jalan ke surga adalah kerugian besar. Sebaliknya, siapa yang mengenal jalan Allah, menjaga shalat, mengikuti sunnah, dan menjauhi maksiat, meskipun ia sederhana dalam urusan dunia, ia telah memegang peta keselamatan sejati. Sebab pada akhirnya, yang ditanyakan bukan seberapa jauh kita menjelajah dunia, tetapi apakah kita tahu jalan pulang menuju surga.