• KEISLAMAN

Benarkah Perayaan Tahun Baru Berasal dari Agama Selain Islam? Ini Penjelasan Menurut Dalil

Yahya Sukamdani | Senin, 29/12/2025
Benarkah Perayaan Tahun Baru Berasal dari Agama Selain Islam? Ini Penjelasan Menurut Dalil Ilustrasi foto tahun baru dan muhasabah diri

Terasmuslim.com - Perayaan Tahun Baru secara historis memang bukan berasal dari ajaran Islam. Tradisi ini telah dikenal sejak peradaban kuno, seperti Babilonia, Romawi, dan Persia, yang merayakan pergantian tahun dengan ritual tertentu sebagai bentuk penghormatan kepada dewa-dewa atau simbol alam. Islam sendiri tidak pernah mensyariatkan perayaan khusus dalam rangka pergantian tahun masehi. Allah SWT menegaskan bahwa Islam memiliki aturan dan identitas tersendiri dalam beribadah, “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (aturan) dari urusan agama itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Al-Jatsiyah: 18).

Rasulullah ﷺ juga menegaskan bahwa umat Islam memiliki ciri khas yang berbeda dengan umat lain. Dalam hadis sahih beliau bersabda, “Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud). Hadis ini menjadi dasar kehati-hatian para ulama terhadap tradisi yang berasal dari ritual atau kebiasaan agama lain, termasuk perayaan tertentu yang memiliki latar belakang keyakinan non-Islam.

Dalam Islam, pergantian waktu sejatinya menjadi sarana untuk muhasabah (introspeksi diri), bukan pesta atau ritual khusus. Allah SWT berfirman, “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh.” (QS. Al-‘Ashr: 1–3). Ayat ini menunjukkan bahwa waktu adalah amanah yang harus diisi dengan iman dan amal saleh, bukan dihabiskan dalam aktivitas yang melalaikan atau bertentangan dengan nilai tauhid.

Oleh karena itu, mayoritas ulama menegaskan bahwa seorang muslim tidak diperintahkan untuk merayakan Tahun Baru sebagaimana tradisi non-Muslim. Jika pergantian tahun dijadikan momentum untuk memperbaiki diri, meningkatkan ibadah, dan meninggalkan maksiat tanpa ritual khusus, maka hal tersebut dibolehkan. Namun ikut serta dalam perayaan yang sarat dengan unsur tasyabbuh (menyerupai) dan kemaksiatan hendaknya dihindari demi menjaga kemurnian aqidah dan identitas Islam.