Ilustrasi foto bermain social media
Terasmuslim.com - Dalam kehidupan modern yang serba terbuka, terutama di media sosial, kebiasaan memamerkan harta, pencapaian, hingga kebahagiaan pribadi menjadi hal yang lumrah. Namun, Islam mengingatkan agar seorang mukmin berhati-hati, karena kebiasaan suka pamer dapat menimbulkan penyakit ‘ain yaitu gangguan yang muncul akibat pandangan iri atau kagum berlebihan seseorang terhadap nikmat yang dimiliki orang lain.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Penyakit ‘ain itu benar adanya. Seandainya ada sesuatu yang dapat mendahului takdir, niscaya penyakit ‘ainlah yang mendahuluinya."
(HR. Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa pengaruh ‘ain bukan sekadar mitos, melainkan sesuatu yang nyata dan bisa menimpa siapa saja. Penyakit ‘ain dapat terjadi karena pandangan kagum tanpa disertai doa kebaikan, bahkan oleh orang yang tidak bermaksud jahat.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:
"Dan sesungguhnya orang-orang kafir yang hampir-hampir membuatmu celaka dengan pandangan mereka ketika mereka mendengar Al-Qur’an dan mereka berkata, ‘Sesungguhnya dia benar-benar orang gila.’"
(QS. Al-Qalam: 51)
Para ulama menafsirkan ayat ini sebagai salah satu dalil adanya pengaruh buruk dari pandangan mata yang disertai rasa iri dan kebencian. Karena itu, Islam mengajarkan untuk tidak berlebih-lebihan dalam menampilkan nikmat di hadapan orang lain.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Mintalah pertolongan (dalam mewujudkan) hajat-hajat kalian dengan menyimpannya (tidak diumumkan kepada orang lain), karena setiap orang yang diberi nikmat pasti akan ada orang yang dengki kepadanya."
(HR. Thabrani dan Abu Nu’aim)
Dengan demikian, seorang Muslim dianjurkan untuk menjaga privasi dan kesederhanaan, baik dalam dunia nyata maupun di media sosial. Jika ingin berbagi kebahagiaan, hendaknya dilakukan dengan niat syukur dan disertai doa:
"Māsyā’ Allāh, lā quwwata illā billāh" (QS. Al-Kahfi: 39) “Sungguh atas kehendak Allah, tidak ada kekuatan selain dari-Nya.”
Ucapan ini menjadi doa agar nikmat tersebut terjaga dari pengaruh buruk ‘ain.