Ilustrasi foto menghina orang lain
Terasmuslim.com - Salah satu ajaran penting dalam Islam adalah menjaga diri dari mencampuri urusan yang bukan menjadi tanggung jawabnya. Sikap gemar ikut campur, apalagi tanpa ilmu dan niat baik, dapat menimbulkan fitnah, permusuhan, dan dosa. Islam menekankan agar seorang mukmin fokus memperbaiki dirinya terlebih dahulu sebelum menilai atau mengurusi urusan orang lain.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Termasuk tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi). Hadis ini menjadi pedoman akhlak bahwa seorang Muslim sejati tidak akan menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak ada manfaatnya, apalagi mengurusi aib atau urusan pribadi orang lain.
Al-Qur’an pun memperingatkan agar umat Islam menjauhi sikap suka mencari-cari kesalahan. Dalam Surah Al-Hujurat ayat 12, Allah ﷻ berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain...” Ayat ini menunjukkan bahwa mencampuri urusan orang lain sering kali bermula dari prasangka buruk yang kemudian berujung pada ghibah dan fitnah.
Sikap tidak mencampuri urusan orang lain bukan berarti cuek terhadap sesama. Islam tetap memerintahkan untuk saling menasihati dalam kebenaran, tetapi dengan cara yang bijak, lembut, dan tidak melanggar batas. Jika sebuah urusan tidak ada kaitannya dengan tanggung jawab atau maslahat umum, maka sebaiknya ditinggalkan.
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan adab sosial yang tinggi: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Diam dari urusan yang tidak perlu adalah bentuk kecerdasan spiritual dan tanda hati yang bersih.
Sikap ini sangat relevan di era media sosial saat ini, di mana banyak orang mudah ikut berkomentar dan menghakimi tanpa tahu kebenarannya. Padahal, setiap kata yang diucapkan atau ditulis akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.