• KEISLAMAN

Larangan di Malam Jumat dalam Tradisi Jawa, Apa Saja?

Vaza Diva Fadhillah Akbar | Kamis, 09/10/2025
Larangan di Malam Jumat dalam Tradisi Jawa, Apa Saja? Ini beberapa larangan yang tidak dianjurkan di Malam Jumat dalam tradisi Jawa (Foto: ISTOCKPHOTO)

Jakarta, Terasmuslim.com - Dalam tradisi masyarakat Jawa, malam Jumat selalu memiliki tempat istimewa. Bagi umat Islam, malam Jumat dianggap sebagai waktu penuh berkah untuk memperbanyak ibadah, membaca surah Yasin, bershalawat, serta mendoakan orang tua dan leluhur yang telah wafat.

Namun, di sisi lain, budaya Jawa juga menyimpan sejumlah larangan dan pantangan yang diyakini tak boleh dilakukan pada malam yang sakral ini.

Secara keagamaan, malam Jumat memang dikenal sebagai salah satu malam yang dimuliakan dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ
“Sebaik-baik hari di mana matahari terbit adalah hari Jumat.” (HR. Muslim)

Namun dalam tradisi Jawa, keyakinan terhadap malam Jumat tidak hanya bernuansa spiritual, tetapi juga bercampur dengan nilai-nilai budaya lokal yang sudah diwariskan turun-temurun.

Beberapa masyarakat Jawa meyakini bahwa malam Jumat Kliwon, kombinasi antara hari Jumat dan pasaran Kliwon dalam penanggalan Jawa — memiliki kekuatan gaib yang besar. Karena itu, ada beberapa pantangan yang sering dihindari, antara lain:

1. Tidak bepergian jauh atau keluar malam.

Konon, malam Jumat dianggap sebagai waktu di mana “alam halus” lebih aktif. Masyarakat dahulu percaya, keluar malam pada waktu itu bisa membawa kesialan atau gangguan dari makhluk tak kasat mata.

2. Tidak memotong kuku atau rambut.

Pantangan ini dipercaya agar seseorang tidak “membuang keberuntungan” menjelang hari yang dianggap suci. Dalam pandangan spiritual Jawa, menjaga kebersihan diri di malam Jumat dilakukan dengan cara lain, seperti berwudu atau mandi tolak bala.

3. Tidak melakukan kegiatan bersuara keras atau gaduh.

Malam Jumat diyakini sebagai waktu hening dan tenang untuk berdoa serta tirakat (menyepi untuk mendekatkan diri kepada Tuhan). Oleh karena itu, aktivitas yang berisik dianggap tidak sopan terhadap suasana malam tersebut.

4. Menghindari hubungan suami-istri pada malam Jumat Kliwon.

Dalam sebagian kepercayaan Jawa kuno, malam ini dianggap “angker” sehingga lebih baik digunakan untuk ibadah atau introspeksi diri, bukan kegiatan duniawi.

Meski sebagian larangan tersebut berasal dari keyakinan budaya dan bukan ajaran agama secara langsung, esensi yang terkandung di dalamnya sejalan dengan nilai-nilai Islam: menghormati malam Jumat sebagai waktu ibadah dan refleksi diri.

Dalam Islam, malam Jumat memang disunnahkan untuk memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, khususnya surah Al-Kahfi dan Yasin, serta memperbanyak shalawat kepada Rasulullah SAW.

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ
“Barang siapa membaca surah Al-Kahfi pada hari Jumat, maka akan terpancar cahaya antara dua Jumat baginya.”
(HR. Al-Hakim)

Ulama dan budayawan Jawa memandang tradisi malam Jumat sebagai perpaduan antara nilai keislaman dan kearifan lokal. Selama tidak bertentangan dengan akidah, tradisi seperti tirakat malam Jumat, tahlilan, atau zikir bersama dianggap sebagai cara masyarakat untuk menjaga spiritualitas dan kebersamaan.