• KEISLAMAN

Ikut Lomba Pakai Daster atau Sarung Lawan Jenis, Apa Kata Islam?

Yahya Sukamdani | Rabu, 06/08/2025
Ikut Lomba Pakai Daster atau Sarung Lawan Jenis, Apa Kata Islam? Ilustrasi lomba

Terasmuslim.com - Beragam lomba dengan konsep lucu dan menghibur sering digelar dalam berbagai acara, seperti peringatan hari kemerdekaan atau acara komunitas. Salah satu yang cukup sering muncul adalah lomba yang mengharuskan peserta memakai pakaian lawan jenis, misalnya laki-laki memakai daster atau perempuan memakai peci dan sarung. Meski dianggap sekadar hiburan, bagaimana sebenarnya hukum mengikuti lomba semacam ini dalam pandangan Islam?

Dalam ajaran Islam, terdapat larangan tegas bagi laki-laki menyerupai perempuan, dan begitu pula sebaliknya. Salah satu bentuk penyerupaan yang dilarang adalah dalam hal pakaian. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

"Rasulullah melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki."
(HR. Bukhari)

Berdasarkan hadis ini, para ulama sepakat bahwa berpakaian seperti lawan jenis, baik dalam waktu singkat maupun lama, termasuk perbuatan yang terlarang. Termasuk dalam konteks lomba, di mana seseorang secara sengaja memakai pakaian yang secara jelas merupakan ciri khas lawan jenis.

Menurut para ulama seperti Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, larangan tersebut berlaku meskipun tujuannya hanya bercanda atau hiburan. Sebab, Islam tidak melihat hanya niat, tapi juga efek dan simbol yang ditimbulkan. Penyerupaan terhadap lawan jenis bisa merusak fitrah manusia, memicu fitnah sosial, serta membuka pintu bagi penyimpangan moral yang lebih besar.

Lomba semacam ini juga berisiko melibatkan pembukaan aurat, bercampur baur laki-laki dan perempuan, serta menjadi ajang tertawaan yang merendahkan kehormatan diri. Semua itu bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat Islam yang menjunjung kesopanan dan menjaga identitas gender.

Karena itu, para tokoh agama dan pendidik mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam memilih bentuk hiburan. Islam tidak melarang kegembiraan, tapi mengajarkan agar kegembiraan tetap berada dalam koridor halal dan tidak menyalahi nilai-nilai agama.

Ada banyak pilihan lomba yang tetap menyenangkan tanpa harus melibatkan unsur yang melanggar syariat. Kreativitas bisa disalurkan dengan tetap menjaga batas yang telah ditetapkan agama.