Ilustrasi - syiah di hari Asyuro 10 Muharram (Foto: AI)
Jakarta, Terasmuslim.com - Belakangan ini, istilah Syiah kembali ramai diperbincangkan, khususnya di tengah memanasnya konflik Iran-Israel.
Sebagai negara dengan mayoritas penduduk penganut Syiah, Iran memang sering dikaitkan dengan pembahasan seputar aliran ini. Namun, apa sebenarnya Syiah itu, dan bagaimana perjalanannya hingga ke Indonesia?
Syiah bukan sekadar aliran dalam Islam, sebagian bahkan menyebutnya sebagai agama tersendiri. Padahal, di dalam Syiah pun terdapat berbagai kelompok dengan pandangan yang berbeda-beda, mulai dari yang selaras hingga yang bertolak belakang dengan akidah Islam mayoritas.
Jejak Syiah dapat ditelusuri hingga masa Khulafaur Rasyidin, saat munculnya dukungan kuat kepada Ali bin Abi Thalib sebagai sosok yang dianggap paling layak memimpin umat Islam setelah wafatnya Rasulullah SAW.
Dilansir dari NU Online, pada Senin (21/7), Di Indonesia, Syiah hadir dalam tiga gelombang utama. Pertama, pada masa awal masuknya Islam di Nusantara, sekitar abad ke-8 Masehi, melalui Kesultanan Peureulak di Aceh.
Salah satu jejak sejarahnya adalah pernikahan putri Sultan Peureulak dengan Raja pertama Samudra Pasai di abad ke-13, yang menjadi titik penyebaran awal Syiah ke berbagai daerah.
Gelombang kedua terjadi pasca Revolusi Islam Iran tahun 1979, yang dipimpin Ayatollah Khomeini. Peristiwa ini menginspirasi banyak kalangan muda Muslim, termasuk di Indonesia, untuk mempelajari lebih jauh tentang Syiah.
Sejak saat itu, berbagai buku, lembaga pendidikan, dan yayasan Syiah bermunculan, serta penyebaran ajarannya mulai dilakukan secara terbuka.
Gelombang ketiga ditandai dengan berdirinya organisasi keagamaan seperti Ikatan Jama`ah Ahlulbait Indonesia (IJABI) dan Ahlulbait Indonesia (ABI), yang aktif mengenalkan fikih Ja’fari dan ajaran Syiah kepada masyarakat.
Meski perkiraan jumlah penganut Syiah di Indonesia bervariasi — mulai dari 200 ribu hingga 6-7 juta menurut data BIN dan Mabes Polri — belum ada angka resmi yang disepakati hingga kini.
Lebih lanjut, perkembangan Syiah juga tak lepas dari berbagai tuduhan yang dialamatkan kepada mereka, mulai dari perbedaan rukun iman, pandangan soal para sahabat Nabi, hingga isu kontroversial seperti nikah mut’ah dan kitab mushaf Fatimah.
Meski begitu, sebagian besar tuduhan ini dibantah langsung oleh komunitas Syiah, yang menegaskan bahwa pemahaman mereka tidak seperti yang sering disalahpahami publik.
Di tengah kontroversi dan kesalahpahaman yang ada, memahami Syiah secara objektif menjadi penting agar kita tidak terjebak pada prasangka tanpa dasar.
Sebagai bagian dari keragaman dalam sejarah Islam, Syiah tetap menjadi salah satu kelompok yang berperan dalam perjalanan panjang Islam, termasuk di Indonesia.