• KISAH

Kisah Cucu Rasulullah yang Tidak Mendapat Kain Kafan Surgawi

Agus Mughni Muttaqin | Senin, 07/07/2025
Kisah Cucu Rasulullah yang Tidak Mendapat Kain Kafan Surgawi Ilustrasi lafadz Nabi Muhammad SAW (Foto: Pexels/Necati Ömer Karpuzoğlu)

Terasmuslim.com - Dalam sebuah riwayat, Malaikat Jibril membawa kain kafan dari surga untuk Rasulullah ﷺ. Kain itu juga diberikan kepada Sayyidah Khadijah istri Rasulullah SAW, putri Rasulullah Fatimah Az-Zahrah, menantu Rasulullah Ali bin Abi Thalib, dan cucu Rasulullah Hasan bin Ali.

Namun, Sayyidina Husein tidak mendapatkan kain tersebut. Ia merupakan satu-satunya dari keluarga inti Nabi Muhammad yang tidak diselimuti kafan surgawi. Padahal, Sayyidina Husein merupakan cucu kesayangan Rasulullah ﷺ. Ia selalu dipeluk, didoakan, dan bahkan disebut sebagai pemuda penghuni surga.

Kisah ini juga tertuang dalam buku “Mulut yang Terkunci” karya Siti Nur Laila, dikutip channel Amirul Mukminin. Disubutkan salah satu alasan yang mendasarnya ada pada cara wafat Sayyidina Husein, yang berbeda dari mereka yang dikafani oleh kain surga.

Sayyidina Husein tidak wafat dalam kondisi biasa, melainkan gugur secara tragis di medan Karbala pada tahun 61 Hijriah. Ia mati sebagai syuhada dalam perjuangan menegakkan keadilan dan melawan kekuasaan yang menyimpang dari nilai-nilai Islam.

Menurut ajaran Islam, seseorang yang gugur dalam jihad fi sabilillah tidak perlu dimandikan, dishalatkan, atau dikafani seperti orang yang wafat biasa. Jenazah syuhada dikuburkan dengan pakaian yang melekat saat ia gugur, sebagai bukti pengorbanannya di jalan Allah.

Itulah sebabnya, Malaikat Jibril tidak membawa kain kafan dari surga untuk Husein, karena Allah sendiri telah memuliakannya dengan derajat syahid. Penghormatan tertinggi itu tidak datang dalam bentuk kain, tapi dalam bentuk keabadian di sisi-Nya.

Sayyidina Husein gugur bukan karena kebetulan sejarah, melainkan karena pilihan sadar untuk tidak tunduk pada kekuasaan zalim. Ketika Yazid bin Muawiyah menjadi khalifah dengan warisan ayahnya, Husein menolak berbaiat karena menilai Yazid tak layak secara moral maupun spiritual.

Penolakan itu menjadi awal dari penderitaan panjang yang berujung pada tragedi Karbala. Husein menerima undangan dari rakyat Kufah yang semula menyatakan dukungan, namun kemudian mengkhianatinya dan menyerahkannya kepada musuh.

Ia tetap melanjutkan perjalanan, meski tahu sepupunya Muslim bin Aqil telah terbunuh. Dan di Karbala, ia bersama rombongan kecilnya yang hanya 72 orang harus menghadapi ribuan pasukan Ubaidillah bin Ziyad.

Sayyidina Husein akhirnya terbunuh secara kejam pada 10 Muharram, tepat di hari Asyura. Kepalanya dipenggal dan tubuhnya dibiarkan tanpa penghormatan layak di tanah Karbala.

Namun kematiannya bukan akhir, melainkan awal dari kebangkitan kesadaran umat tentang pentingnya berdiri di sisi kebenaran, meski harus kehilangan segalanya. Sebab itu, kain kafan surgawi tidak datang kepadanya—karena surga sendiri telah menantinya sebagai syuhada.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Sesungguhnya Husein adalah bagian dariku, dan aku bagian dari Husein.” Ia juga bersabda, “Hasan dan Husein adalah pemimpin para pemuda di surga.”

Dengan begitu, tidak adanya kain kafan dari surga bukanlah bentuk kekurangan, tetapi justru tanda kemuliaan yang berbeda. Allah telah menempatkan Sayyidina Husein pada kedudukan yang lebih tinggi, bukan karena kafannya, tapi karena darahnya yang tumpah demi tegaknya Islam. (*)

Wallohu`alam