Ilustrasi foto sahabat Rasulullah
Terasmuslim.com - Di antara para sahabat Rasulullah ﷺ, nama Abdullah bin Hudhafah As-Sahmi mungkin tidak sepopuler Abu Bakar atau Umar bin Khattab. Namun keteguhan imannya, keberaniannya menghadapi penguasa lalim, dan kecerdasannya dalam berdiplomasi membuatnya dikenang sebagai simbol keberanian seorang Muslim sejati. Ia adalah sosok yang berani menantang Kaisar Romawi di hadapan pasukan besar, bahkan rela mencium kepala musuh demi menyelamatkan nyawa kaum Muslimin.
Abdullah bin Hudhafah berasal dari Bani Sahm, salah satu kabilah Quraisy. Ia memeluk Islam sejak awal dan menjadi bagian dari pasukan yang dikirim Rasulullah dalam berbagai ekspedisi. Salah satu kisah terkenalnya terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, saat Abdullah diutus membawa surat dari Rasulullah kepada Kaisar Romawi Timur (Bizantium), Heraklius.
Dalam perjalanannya sebagai utusan, Abdullah menunjukkan keberanian luar biasa. Ia menyampaikan surat Rasulullah kepada Kaisar tanpa rasa takut, meski harus menghadap seorang raja besar yang dikenal angkuh. Heraklius menolak masuk Islam, namun memperlakukan Abdullah dengan sopan karena menyadari keistimewaannya sebagai utusan resmi.
Namun kisah paling terkenal dari Abdullah bin Hudhafah terjadi ketika ia ditawan oleh tentara Romawi dalam suatu ekspedisi militer. Kaisar Romawi saat itu sangat kagum dengan keteguhan Abdullah dan mencoba berbagai cara untuk membuatnya murtad, mulai dari bujuk rayu, hadiah besar, wanita cantik, hingga ancaman kematian. Namun semuanya ditolak mentah-mentah oleh Abdullah.
Kaisar kemudian memerintahkan agar Abdullah direbus hidup-hidup dalam kuali berisi minyak mendidih. Di hadapan matanya sendiri, Abdullah melihat seorang sahabat yang juga ditawan dilempar ke dalam kuali dan langsung hancur tubuhnya. Menyaksikan itu, Abdullah menangis. Kaisar mengira air mata itu tanda ketakutan, namun Abdullah berkata, “Aku menangis bukan karena takut mati, tapi karena aku hanya punya satu nyawa. Andaikata aku punya seribu nyawa, aku ingin semuanya mati di jalan Allah seperti ini.”
Terkesan oleh keteguhan hatinya, Kaisar kemudian menawarkan pembebasan asalkan Abdullah mau mencium kepalanya. Abdullah menolak berkali-kali, sampai akhirnya sang kaisar berkata, “Jika kau mencium kepalaku, aku akan membebaskanmu dan seluruh tawanan Muslim lainnya.”
Demi menyelamatkan saudara-saudaranya, Abdullah pun bersedia mencium kepala Kaisar. Maka ia pun dibebaskan bersama para tawanan. Ketika kembali ke Madinah dan melaporkan kejadian itu kepada Umar bin Khattab, sang khalifah berdiri dan berkata di hadapan kaum Muslimin, “Wajib bagi setiap Muslim untuk mencium kepala Abdullah bin Hudhafah, dan aku yang pertama akan melakukannya.” Umar pun maju dan mencium kepala sang sahabat yang penuh keberanian.
Kisah Abdullah bin Hudhafah adalah pelajaran besar tentang keberanian, keteguhan iman, dan kecerdasan dalam mengambil keputusan strategis. Ia adalah bukti bahwa seorang Muslim sejati tidak hanya tegas dalam keyakinan, tapi juga bijak dalam bertindak demi kemaslahatan umat.