• KEISLAMAN

Kenapa Awal Tahun Islam Bukan Hari Lahir Rasulullah? Ini Jawabannya

Agus Mughni Muttaqin | Minggu, 22/06/2025
Kenapa Awal Tahun Islam Bukan Hari Lahir Rasulullah? Ini Jawabannya Ilustrasi Tahun Baru Islam

Terasmuslim.com - Setiap tanggal 1 Muharram, umat Islam di seluruh dunia memperingati Tahun Baru Islam. Seperti diketahui, 1 Muharam merupakan hari pertama dalam Kalender Hijriah dan ditetapkan bahwa 1 Muharam sebagai penanda awal Tahun Baru Islam.

Namun, pernahkah kita bertanya: mengapa kalender Hijriyah tidak dimulai dari peristiwa kelahiran Nabi Muhammad Saw, turunnya wahyu pertama, atau Isra Mi’raj? Mengapa justru peristiwa Hijrah—pindahnya Nabi dan para sahabat dari Mekkah ke Madinah—yang dijadikan sebagai titik awal perhitungan tahun Islam?

Jawaban atas pertanyaan ini tidak hanya menarik secara historis, tetapi juga sarat makna filosofis dan identitas peradaban. Berikut ini adalah ulasannya yang dikutip dari berbagai sumber.

Awal Penanggalan Islam

Sekitar 17 tahun setelah hijrah, di masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, persoalan administratif negara mulai rumit. Salah satu pemicunya adalah surat penting dari Gubernur Basrah, Abu Musa Al-Asy’ari, yang tidak mencantumkan tahun pembuatan secara jelas. Ketika membaca surat tersebut, Umar bingung: apakah ini merujuk pada Sya’ban tahun ini, tahun lalu, atau tahun depan?

Menyadari bahwa ketidakteraturan ini bisa menimbulkan kekacauan dalam dokumen hukum, perjanjian, hingga pengambilan keputusan, Umar mengumpulkan para sahabat terkemuka untuk merumuskan sistem penanggalan resmi.

Kenapa Bukan Kelahiran Nabi?

Musyawarah itu sempat berlangsung alot. Sebagian sahabat mengusulkan kelahiran Nabi Muhammad sebagai titik awal kalender Islam. Ada pula yang memilih wafatnya Nabi, atau momen turunnya wahyu pertama. Semua usulan ini memiliki nilai spiritual yang tinggi—namun secara kontekstual, masih bersifat eksklusif bagi umat Islam.

Lalu datanglah ide brilian: jadikan peristiwa hijrah sebagai awal kalender Islam.

Usulan ini diterima bulat. Bukan karena hijrah adalah peristiwa terbesar dalam Islam secara spiritual, tetapi karena hijrah merupakan titik balik dalam sejarah peradaban Islam—dari dakwah yang tertindas menjadi tatanan masyarakat yang berdaulat.

Hijrah adalah simbol transformasi, perjuangan, dan pembentukan peradaban Islam. Ia bukan sekadar pelarian, melainkan strategi besar menuju kebebasan beragama, keadilan sosial, dan kohesi umat.

Muharram, Bukan Rabi’ul Awal

Fakta menarik lainnya: Nabi Muhammad sebenarnya berhijrah pada Rabi’ul Awal, bukan Muharram. Namun, bulan Muharram tetap dipilih sebagai awal tahun. Mengapa?

Menurut sejarawan dan pakar falak seperti Muhyiddin Khazin, Muharram adalah bulan ketika niat dan persiapan hijrah mulai dirancang. Secara administratif, juga lebih logis memulai tahun dari bulan pertama dalam siklus bulan Arab yang sudah dikenal luas.

Peran Ali bin Abi Thalib dalam Penanggalan Islam

Dalam beberapa riwayat, termasuk yang disampaikan oleh Dermawan Abdullah, disebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah sosok yang pertama kali mengusulkan hijrah sebagai penanda awal kalender Islam. Usulnya diterima, dan pada 8 Rabi’ul Awal tahun 17 H (sekitar 638 M), Umar bin Khattab secara resmi menetapkan sistem kalender ini. Kalender Hijriyah pun lahir.

Kalender Hijriyah tidak hanya dipakai untuk menentukan waktu-waktu ibadah seperti puasa, haji, dan zakat, tapi juga menjadi simbol identitas umat Muslim.

Seiring perkembangan Kekhalifahan Islam, penanggalan ini menjadi instrumen vital dalam hukum dan peradilan, administrasi pemerintahan, diplomasi dan perjanjian antarwilayah, hingga pencatatan sejarah dan budaya.

Dengan sistem yang berbasis pada rotasi bulan (komariah), satu tahun Hijriyah memiliki 354 atau 355 hari, lebih pendek dari kalender Masehi. Perbedaan ini menjadikan momen-momen keagamaan Islam terus bergeser dalam siklus musim setiap tahunnya.

Jejak Kalender Hijriyah di Indonesia

Penerapan kalender Hijriyah di Nusantara bermula sejak masuknya Islam ke tanah Jawa. Seiring proses Islamisasi, muncul akulturasi budaya seperti yang dilakukan Sultan Agung dari Mataram (abad ke-17), yang menyatukan kalender Saka dan Hijriyah. Bulan Muharram pun dikenal sebagai Suro dalam budaya Jawa.

Sementara sejarawan seperti M.C. Ricklefs melihat ini sebagai bentuk diplomasi budaya, Anthony Reid memaknainya sebagai bagian dari strategi hegemoni politik—dari pesisir ke pedalaman, dari kerajaan Hindu-Buddha ke Islam.

Mengapa Hijrah relevan hari ini? Menteri Agama Nasaruddin Umar, dalam pidato Syiar Muharram 1447 H, menyatakan bahwa hijrah adalah simbol nilai-nilai universal: kebebasan, keadilan, dan persaudaraan lintas iman. Inilah mengapa hijrah tetap relevan bagi masyarakat modern, tidak hanya untuk Muslim.

Hijrah bukan lagi sekadar perpindahan fisik, tetapi juga spiritual dan sosial: dari kemapanan ke perbaikan, dari stagnasi ke kemajuan, dari konflik ke harmoni. (*)

Wallohu`alam