Ilustrasi - lafadz Nabi Muhammad SAW (Foto: Pexels/Necati Ömer Karpuzoğlu)
Jakarta, Terasmuslim.com - Tahun Baru Islam atau 1 Muharram menandai permulaan kalender Hijriah bagi umat Muslim. Meskipun Rasulullah SAW tidak secara khusus memperingati pergantian tahun sebagaimana perayaan yang dilakukan sebagian masyarakat hari ini.
Namun terdapat beberapa amalan yang dianjurkan atau dilakukan oleh Rasulullah SAW yang dapat diamalkan pada awal tahun Hijriah, khususnya di bulan Muharram.
Salah satu sunnah yang paling utama ketika memasuki tahun baru Hijriah adalah memperbanyak puasa sunnah di bulan Muharram. Rasulullah SAW sangat menganjurkan puasa di bulan ini karena memiliki keutamaan khusus.
Hadis riwayat Muslim:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
«أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ»
Artinya:
“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.”
(HR. Muslim no. 1163)
Ini menunjukkan bahwa bulan Muharram memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah SWT, sehingga Nabi SAW mengajarkan umatnya untuk memperbanyak ibadah di dalamnya, termasuk dengan berpuasa.
Salah satu sunnah yang sangat ditekankan di bulan Muharram adalah puasa pada hari ke-10, yang dikenal dengan sebutan Hari Asyura. Bahkan, Rasulullah SAW sangat menjaga puasa ini dan menyebutnya sebagai penghapus dosa setahun yang lalu.
Hadis riwayat Muslim:
عَنْ أَبِي قَتَادَةَ، قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ:
«يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ»
Artinya:
“Rasulullah ﷺ ditanya tentang puasa pada hari Asyura, beliau menjawab: ‘Puasa itu dapat menghapus dosa satu tahun yang telah lalu.’”
(HR. Muslim no. 1162)
Untuk menyelisihi kaum Yahudi yang juga berpuasa pada hari itu, Rasulullah SAW berniat di kemudian hari untuk menambahkan puasa pada tanggal 9 (Tasua) agar berbeda dari mereka.
Hadis riwayat Ibnu Abbas:
لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ وَالْعَاشِرَ
Artinya:
“Jika aku masih hidup tahun depan, aku akan berpuasa pada tanggal 9 dan 10 (Muharram).”
(HR. Muslim)
Walaupun tidak terdapat doa khusus dari Rasulullah SAW untuk menyambut tahun baru, namun para ulama menganjurkan memperbanyak dzikir, doa, dan muhasabah di awal Muharram. Ini sejalan dengan spirit hijrah yang dilakukan Nabi SAW dalam rangkaian sejarah Islam, yaitu berpindah dari keburukan menuju kebaikan.
Doa yang biasa dibaca di akhir tahun dan awal tahun adalah bentuk kebaikan yang ditanamkan oleh para ulama sebagai sarana introspeksi diri, walaupun tidak berasal dari hadis shahih secara langsung.
Contoh doa yang biasa dibaca oleh umat Muslim saat pergantian tahun:
Tulisan Arab:
اللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذِهِ السَّنَةَ خَيْرًا مِنْ سَابِقَتِهَا، وَاجْعَلْنِي فِيهَا مِنَ الَّذِينَ نِلْتَ رِضَاكَ وَغُفْرَانَكَ.
Artinya:
“Ya Allah, jadikanlah tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang memperoleh ridha dan ampunan-Mu.”
Meski tidak tercatat dalam hadis tertentu bahwa Nabi SAW melakukan muhasabah secara spesifik di awal tahun, namun banyak riwayat yang menunjukkan bahwa Rasulullah sangat sering melakukan perenungan, dzikir, serta memohon ampun setiap hari, bahkan lebih dari 70 kali.
Ini menjadi teladan bagi kita untuk menjadikan momen pergantian tahun sebagai waktu untuk mengevaluasi amal, memperbaiki niat, dan merancang resolusi hijrah menuju ketaatan yang lebih baik.