Ilustrasi menjilat jari setelah makan (Foto: AI)
Terasmuslim.com - Dalam Islam, adab makan tidak hanya mencakup doa sebelum dan sesudah makan, tetapi juga kebiasaan kecil yang sarat makna, seperti menjilat jari setelah makan. Di tengah masyarakat modern, sebagian orang mungkin menganggap kebiasaan ini kurang sopan. Namun, dalam pandangan Islam, menjilat jari justru merupakan sunnah Rasulullah SAW yang penuh hikmah.
Tindakan ini bukan sekadar persoalan etika meja makan, melainkan bagian dari penghargaan terhadap nikmat Allah. Rasulullah SAW menunjukkan bahwa tidak ada rezeki yang layak diabaikan, sekalipun hanya setetes kuah yang menempel di jari.
Praktik menjilat jari usai makan juga mengajarkan sikap syukur, kesederhanaan, dan menjauhi sikap mubazir terhadap makanan.
Rasulullah SAW bersabda:
"Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka janganlah dia mengusap tangannya (dengan kain atau mencuci) hingga dia menjilatinya atau menjilatkannya."
(HR. Bukhari no. 5456 dan Muslim no. 2031)
Hadits ini secara eksplisit menganjurkan untuk menjilat jari setelah makan, karena bisa jadi masih ada keberkahan pada sisa makanan yang melekat di jari.
Menjilat jari adalah bentuk menghargai makanan secara utuh, sekecil apa pun sisanya. Islam mengajarkan bahwa nikmat Allah harus disyukuri, dan membuang makanan, termasuk yang menempel di jari, bisa tergolong mubazir.
Mubazir atau menyia-nyiakan makanan sangat dikecam dalam Islam. Dengan menjilat jari, kita telah mempraktikkan prinsip menghindari pemborosan dan menyempurnakan adab makan.
Segala kebiasaan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW menjadi teladan terbaik bagi umat Islam. Menjilat jari adalah bentuk nyata dari ittiba` (mengikuti Nabi) dalam aspek kehidupan sehari-hari yang sederhana tapi penuh nilai.
Dalam budaya makan tanpa sendok, apalagi ketika makan bersama (misalnya dalam nampan atau dulang), menjilat jari membuat makanan yang tersisa di tangan tetap dikonsumsi, bukan terbuang begitu saja saat dicuci.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hikmah dari menjilat jari adalah karena kita tidak tahu di bagian mana makanan itu terdapat keberkahan. Bisa jadi, sisa rezeki yang paling bernilai justru ada di ujung jari kita.
Meski disunnahkan, ulama juga menekankan pentingnya adab sosial. Bila menjilat jari dianggap tidak sopan dalam suatu lingkungan, maka dilakukan dengan cara yang tidak mencolok atau setelah menjauh dari tempat umum. Prinsipnya, sunnah tetap bisa dijalankan tanpa melukai perasaan orang lain.
Menjilat jari setelah makan bukan sekadar tindakan sepele, tapi bagian dari sunnah Nabi Muhammad SAW yang kaya makna. Ia mengajarkan rasa syukur, kesederhanaan, dan keteladanan terhadap ajaran Islam.
Di balik sunnah yang tampak sederhana ini, terdapat pelajaran besar tentang menghormati nikmat Allah dan menyempurnakan adab makan.
"Sesungguhnya pada makanan itu terdapat keberkahan. Maka, janganlah kalian meninggalkan sedikit pun darinya."
(HR. Muslim)