Ilustrasi sebutan binatang (Foto: AI)
Terasmuslim.com - Dalam kehidupan sehari-hari, kita kerap menemukan orang yang memanggil orang lain dengan sebutan binatang, entah sebagai candaan, ejekan, atau pelampiasan emosi. Padahal, dalam Islam, tindakan seperti ini dilarang karena bertentangan dengan prinsip adab, akhlak, dan penghormatan terhadap sesama manusia.
Agama Islam mengajarkan untuk menjaga lisan dan memperlakukan orang lain dengan penuh hormat dan kasih sayang, tanpa menyakiti perasaan mereka melalui ucapan yang merendahkan.
Larangan ini tidak sekadar adab sosial, melainkan juga memiliki dasar dalam Al-Qur’an dan hadits yang menunjukkan pentingnya menjaga kehormatan dan martabat sesama.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 11:
"Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelaran yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman, dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim."
(QS. Al-Hujurat: 11)
Ayat ini melarang keras penggunaan sebutan yang menyakitkan, termasuk menyamakan seseorang dengan binatang yang biasanya bernada merendahkan.
Memanggil orang dengan sebutan binatang berarti mencela ciptaan Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya orang mukmin itu bukan orang yang suka mencela, bukan orang yang suka melaknat, bukan orang yang berkata keji, dan bukan pula orang yang suka berbicara kotor."
(HR. Tirmidzi no. 1977)
Ucapan seperti "anjing", "babi", "monyet", dan sebagainya terhadap sesama manusia, meskipun hanya berniat bercanda, adalah bentuk celaan yang sangat dikecam dalam ajaran Islam.
Kata-kata yang keluar dari mulut seorang Muslim adalah doa. Maka, menyamakan seseorang dengan binatang dapat menjadi doa yang buruk atas orang tersebut. Islam sangat menganjurkan menjaga lisan dari menyakiti hati orang lain, apalagi jika hal tersebut sampai membuat seseorang merasa hina atau marah.
Ucapan yang kasar dan merendahkan dapat memicu konflik sosial. Dalam banyak kasus, candaan yang berlebihan dengan sebutan binatang justru memicu perkelahian dan permusuhan. Padahal, Islam sangat menganjurkan umatnya untuk menjaga ukhuwah dan menghindari hal-hal yang dapat merusak hubungan antar manusia.
Rasulullah SAW dikenal dengan akhlak yang paling mulia dan tidak pernah menghina orang lain. Sebagai umatnya, kita diperintahkan untuk meneladani beliau. Menggunakan kata-kata kotor, apalagi menyamakan manusia dengan binatang, menunjukkan lemahnya akhlak seseorang dalam menjaga adab berbicara.
Islam hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam. Maka, umat Islam harus menjaga tutur kata yang mencerminkan kasih sayang, bukan penghinaan. Ucapan yang kasar atau menghina menunjukkan ketidaksesuaian dengan misi Islam sebagai agama yang penuh kedamaian.
Memanggil orang dengan sebutan binatang bukanlah perbuatan ringan dalam pandangan Islam. Ia bisa menjadi dosa besar jika dilakukan dengan niat merendahkan dan menyakiti. Maka, mari kita jaga lisan, karena Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dengan menjaga lisan, kita menjaga kehormatan diri sendiri dan juga orang lain.