• SOSOK

Imam Mahdi, Apakah Benar Keturunan Nabi Muhammad SAW?

Vaza Diva Fadhillah Akbar | Sabtu, 03/05/2025
Imam Mahdi, Apakah Benar Keturunan Nabi Muhammad SAW? Ilustrasi Imam Mahdi (Foto: ISTIMEWA)

Terasmuslim.com - Kemunculan Imam Mahdi telah lama menjadi bagian penting dalam keyakinan eskatologis umat Islam. Ia diyakini sebagai sosok pemimpin akhir zaman yang akan menegakkan keadilan setelah dunia dilanda kekacauan dan ketidakadilan. Salah satu pertanyaan paling sering muncul adalah: apakah benar Imam Mahdi merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW?

Keyakinan akan munculnya Imam Mahdi berasal dari sejumlah hadis yang diriwayatkan oleh para sahabat Nabi Muhammad SAW. Dalam berbagai riwayat, disebutkan bahwa Imam Mahdi merupakan keturunan langsung Nabi Muhammad SAW, dari garis keturunan Fatimah az-Zahra, putri Rasulullah.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "الْمَهْدِيُّ مِنْ عِتْرَتِي مِنْ وُلْدِ فَاطِمَةَ" 

Rasulullah SAW bersabda: “Al-Mahdi berasal dari keturunanku, dari anak keturunan Fatimah.”
(HR. Abu Dawud, no. 4286; sahih)

Hadis ini menjadi dasar kuat bahwa Imam Mahdi adalah ahlul bait (keluarga Nabi), tepatnya dari garis keturunan Hasan atau Husain, dua cucu Nabi dari Fatimah dan Ali bin Abi Thalib.

Dalam hadis lain, disebutkan bahwa nama Imam Mahdi akan sama seperti nama Nabi, dan nama ayahnya juga sama dengan ayah Nabi, yaitu Abdullah.

"اسمه اسمي، واسم أبيه اسم أبي، يملأ الأرض قسطًا وعدلاً كما ملئت جورًا وظلمًا" 

“Namanya seperti namaku, nama ayahnya seperti nama ayahku. Ia akan memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi kezaliman dan penindasan.”
(HR. Abu Dawud, Ahmad, dan lainnya)

Dengan demikian, namanya adalah Muhammad bin Abdullah, menunjukkan kesamaan simbolik dengan Nabi SAW, namun ia bukan Nabi baru melainkan pemimpin adil.

Dalam tradisi Islam, khususnya dalam madzhab Sunni dan Syiah, keturunan Nabi dianggap memiliki kedudukan spiritual yang tinggi karena hubungan darah langsung dengan Rasulullah SAW. Dipercaya bahwa Imam Mahdi dipilih oleh Allah untuk memperbaiki kondisi dunia, dan nasabnya sebagai dzurriyah Nabi menjadi simbol kesinambungan misi kenabian, bukan dalam bentuk kenabian baru, tapi kepemimpinan spiritual dan moral.