• KEISLAMAN

Apakah Tawasul Bagian Dari Syirik? Ini Penjelasannya

Vaza Diva Fadhillah Akbar | Kamis, 01/05/2025
Apakah Tawasul Bagian Dari Syirik? Ini Penjelasannya Ilustrasi (FOTO: FREEPIK)

Terasmuslim.com - Ulama kharismatik asal Rembang, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau akrab disapa Gus Baha, kembali menyampaikan pandangannya yang menohok mengenai praktik tawasul, sebuah tradisi doa melalui perantara Nabi atau wali yang masih kerap menuai pro dan kontra di kalangan umat Islam.

Dalam sebuah pengajian yang diunggah melalui kanal YouTube @takmiralmukmin, Gus Baha menyinggung ketidakkonsistenan sebagian orang dalam memahami tauhid. Ia mempertanyakan mengapa banyak pihak yang mencurigai tawasul sebagai bentuk kemusyrikan, sementara menggantungkan harapan pada dokter atau obat dalam proses penyembuhan dianggap lumrah.

“Orang bertawasul itu tidak meminta kepada wali, tapi menempatkan mereka sebagai perantara karena merasa tidak layak langsung kepada Allah. Tapi kok malah dituduh syirik?” ujar Gus Baha di hadapan jamaah.

Ia menekankan bahwa dalam konteks tawasul, tidak ada penyandaran kekuatan pada selain Allah. Peran wali atau Nabi hanyalah sebagai wasilah, bukan sebagai pihak yang dimintai secara langsung.

“Lucu, orang yang berdoa lewat wasilah dituduh menyekutukan Tuhan, tapi orang yang sembuh lalu bilang ‘dokter menyembuhkan saya’ dibiarkan begitu saja. Padahal logikanya sama,” tambahnya.

Menurut Gus Baha, sikap semacam itu mencerminkan ketidakkonsistenan dalam memaknai sebab-akibat dalam hidup. Ia menilai bahwa semua hal di dunia adalah sarana (sebab), bukan penyebab utama. Termasuk kesembuhan, yang sejatinya tetap datang dari Allah meski melalui obat, dokter, atau bahkan doa melalui perantara orang saleh.

“Kalau pakai logika itu, harusnya percaya pada obat juga dianggap syirik dong. Tapi kan tidak. Ini soal logika dan kejujuran berpikir,” kata Gus Baha dengan nada mengkritik.

Dalam banyak kesempatan sebelumnya, Gus Baha memang dikenal sebagai sosok yang membela praktik keagamaan tradisional, termasuk ziarah kubur dan tawassul. Ia menegaskan bahwa amalan-amalan tersebut telah dijalankan oleh para ulama Ahlussunnah wal Jamaah selama berabad-abad.

Nabi disebut dalam doa, bukan untuk disembah, tapi dimuliakan. Semua tetap bermuara kepada Allah. Lalu di mana syiriknya?” tuturnya lagi.

Ia juga menyayangkan adanya kelompok-kelompok yang gemar menyesatkan amalan yang telah menjadi bagian dari tradisi Islam klasik. Bagi Gus Baha, justru lebih berbahaya jika seseorang menyandarkan kesembuhan hanya pada obat atau dokter tanpa menyertakan Allah.

“Orang bilang, ‘Alhamdulillah cocok sama dokternya,’ itu kan logika yang sama dengan tawasul. Tapi itu tidak kalian persoalkan. Kenapa? Karena kalian tidak adil dalam berpikir,” ujar Gus Baha.

Sebagai penutup, Gus Baha mengingatkan agar umat Islam tidak mudah memberikan label sesat atau syirik terhadap sesama Muslim hanya karena perbedaan pendekatan spiritual. Menurutnya, tauhid bukan sekadar soal doktrin, tapi juga tentang sikap mental yang adil dan tidak gegabah.

“Tauhid itu bukan hanya teriakan di mulut. Ia harus lahir dari pikiran yang jernih dan hati yang tenang,” pungkasnya.

Keywords :