Ustadz Adi Hidayat ( Foto: Screenshoot YouTube Adi Hidayat Official)
Terasmuslim.com - Di tengah arus kehidupan modern, sering kali ukuran kecerdasan seseorang diukur dari pencapaian akademik, posisi dalam karier, atau kemahirannya dalam bidang teknologi. Namun dalam perspektif Islam, ukuran kepintaran tidak sesederhana itu.
Menurut Ustadz Adi Hidayat (UAH), seorang dai kondang yang banyak digandrungi anak muda, pandangan Islam terhadap kecerdasan jauh lebih dalam. Kepintaran sejati, katanya, bukan hanya tentang kemampuan intelektual atau kesuksesan duniawi, tetapi tentang kesadaran spiritual akan tujuan hidup dan kesiapannya untuk kembali kepada Sang Khalik.
"Yang benar-benar cerdas itu adalah orang yang memahami alasan ia hadir di dunia dan tahu bagaimana cara kembali kepada Allah," ungkap UAH dalam salah satu ceramahnya.
Ia menjelaskan, dalam pandangan Islam, orang yang bijak akan mengaitkan setiap aspek hidupnya dengan petunjuk Ilahi. Ia akan senantiasa mencari tahu melalui doa dan perenungan: apa maksud Allah menciptakannya, apa tugas yang harus dijalankan di bumi, dan bagaimana menjalani hidup agar diridhai.
"Dia akan bertanya pada Allah, ‘Apa maksud aku ada di dunia ini? Apa misiku di bumi? Bagaimana seharusnya aku bersikap dari bangun tidur sampai tidur lagi?’” tutur UAH, sebagaimana dilansir dari video ceramahnya di kanal YouTube @Hasanahislamofficial, pada Minggu (20 April 2025).
Ustadz Adi Hidayat menambahkan bahwa Islam merupakan satu-satunya agama yang secara menyeluruh memberi panduan hidup, mulai dari hal paling sederhana seperti cara makan, berpakaian, hingga urusan sosial dan spiritual.
“Tak ada sistem hidup yang lebih lengkap dari Islam. Dari bangun tidur hingga tidur kembali, bahkan sampai kehidupan setelah wafat, semuanya ada tuntunannya dalam Islam,” jelasnya.
Dari penjelasan ini, UAH ingin menekankan bahwa ajaran Islam tidak berhenti pada ibadah ritual, namun menjangkau seluruh dimensi kehidupan manusia. Maka, ukuran kepintaran pun tak bisa semata-mata dilihat dari gelar atau pekerjaan.
Ia mencontohkan, seseorang bisa menjadi ilmuwan besar atau profesor ternama, tetapi jika ia belum mengenal esensi hidup dan tak tahu bagaimana menyucikan diri sebelum sholat, maka belum tentu ia tergolong cerdas dalam pandangan Islam.
“Siapa yang lebih bijak? Orang yang tahu cara sholat dan mendekatkan diri kepada Allah, atau yang hanya ahli dalam urusan dunia tapi lupa akan akhiratnya?” tanya UAH retoris kepada para pendengarnya.
Karena itu, ia mengajak umat Islam untuk meninjau kembali definisi ‘orang pintar’. Gelar akademik dan prestasi duniawi hanyalah pelengkap. Yang utama adalah menjalani hidup dengan kesadaran penuh akan misi spiritual dan tujuan akhir.
Ustadz Adi Hidayat pun mengutip firman Allah dalam surat Al-Mulk ayat 2: "Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu siapa yang paling baik amalnya." Ayat ini, menurutnya, adalah bukti bahwa ukuran utama dalam hidup bukanlah jabatan atau kekayaan, melainkan kualitas amal dan keikhlasan niat.
Beliau juga menekankan pentingnya menyertakan doa dalam setiap aktivitas, bahkan saat akan tidur. Dalam Islam, setiap gerak dan langkah dapat bernilai ibadah bila diniatkan karena Allah.
“Inilah keistimewaan Islam. Setiap niat yang baik akan dicatat sebagai pahala. Setiap aktivitas punya nilai jika diniatkan karena Allah,” ujar UAH.
Dengan memahami prinsip ini, seseorang akan menjalani hidup lebih terarah, tenang, dan tidak mudah hanyut dalam godaan zaman.
Orang yang cerdas menurut Islam, lanjut UAH, akan selalu menjaga perkataan dan perbuatannya karena sadar bahwa setiap detik hidup adalah bagian dari perjalanan menuju kehidupan akhir.
Ia pun menutup pesannya dengan peringatan bahwa pada akhirnya, manusia akan kembali kepada Allah, dan yang menyertainya hanyalah amal dan niat, bukan harta atau jabatan.
“Jadilah orang cerdas dalam arti yang sejati: paham tujuan hidup, tahu ke mana akan kembali, dan sadar apa bekal yang harus disiapkan,” tutup Ustadz Adi Hidayat dalam ceramahnya.