Tren Joget yang dianggap mengikuti tradisi Yahudi (Foto: Suara)
Terasmuslim.com - Tradisi membagikan Tunjangan Hari Raya (THR) kepada keluarga saat Idul Fitri merupakan budaya yang sudah mengakar di masyarakat. Mulai dari anak-anak, keponakan, hingga saudara lainnya, momen berbagi ini menjadi bagian dari kegembiraan lebaran yang dinanti setiap tahunnya.
Namun, seiring masifnya penggunaan media sosial, cara-cara unik membagikan THR pun bermunculan. Salah satu tren yang ramai di tahun ini adalah aksi joget-joget saat membagikan THR yang viral di berbagai platform. Video-video ini kerap muncul di halaman utama media sosial dan menjadi bagian dari tren viral yang diikuti oleh banyak warganet.
Menariknya, sejumlah netizen menyadari bahwa tarian yang digunakan dalam konten joget THR ini mirip dengan gaya tarian tradisional yang sering dilakukan oleh komunitas Yahudi. Sebuah video lawas yang memperlihatkan sekelompok pria berpakaian khas Yahudi tengah menari dalam formasi serupa pun menjadi bahan perbandingan.
Tanggapan terhadap tren ini pun beragam. Salah satu yang ikut mengkritisi tren tersebut adalah Ustadz Abu Bakar Al Akhdhory. Dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, ia menyampaikan keprihatinan terhadap aksi joget-joget saat membagikan THR, yang menurutnya tidak mencerminkan nilai-nilai dalam Islam.
“Joget-joget bagi THR itu mirip tarian Yahudi. Dan walaupun tidak murni dari mereka, musik dan joget seperti itu tetap masuk dalam kategori yang tidak baik menurut Islam,” tulisnya dalam unggahannya.
Beliau menegaskan bahwa berbagi THR adalah hal yang baik dan dianjurkan, namun cara pelaksanaannya tetap harus sesuai dengan syariat. Menurutnya, sangat disayangkan jika momen sakral seperti Idul Fitri justru diwarnai oleh aksi-aksi yang tidak pantas hanya demi konten viral.
“Kalau sekadar ingin berbagi, itu bagus. Tapi jangan sampai disertai musik dan gerakan yang melanggar nilai agama, walaupun katanya hanya demi hiburan atau konten,” ujarnya.
Ia juga mengkritik kecenderungan masyarakat untuk mengikuti apa yang sedang viral tanpa terlebih dahulu memahami asal-usulnya.
“Masyarakat kita ini gampang latah, apalagi kalau sudah lihat yang viral. Kalau ikut dalam kebaikan sih bagus, tapi kalau malah meniru hal yang tidak jelas asal-usulnya, ya perlu diwaspadai,” tambahnya.
Ustadz Abu Bakar pun menyampaikan permohonan maaf jika pernyataannya menyinggung pihak tertentu, terutama para pembuat konten yang mungkin tidak menyadari konsekuensi dari apa yang mereka unggah. Ia menekankan bahwa niatnya adalah untuk mengingatkan, bukan menghakimi.
Sementara itu, jurnalis Iqbal Himawan mencoba memberikan perspektif lebih luas mengenai asal muasal tarian tersebut. Melalui akun Instagramnya, ia menyebut bahwa video yang dianggap mirip tarian Yahudi itu sebenarnya berasal dari tahun 2014, menampilkan acara pernikahan komunitas Yahudi Hasidik di Israel.
Ia menjelaskan bahwa tarian tersebut menggunakan formasi tradisional bernama Honga dengan langkah yang dikenal sebagai Bunny Hop gerakan yang dikembangkan di San Francisco pada tahun 1952. Bahkan, beberapa sumber menyebut bahwa tarian ini memiliki kemiripan dengan tarian rakyat dari Finlandia bernama Jenkka, atau versi lokal dari Scottish dance yang populer di Eropa Timur pada abad ke-19.
“Versi lainnya juga menyebutkan kesamaan dengan tarian rakyat dari Rumania dan Albania,” tulis Iqbal.
Menariknya, menurut Iqbal, komunitas pria Yahudi yang religius justru tidak terlalu menganggap penting kemampuan menari. Dalam tradisi mereka, waktu dan tenaga lebih dihargai jika digunakan untuk memperdalam ilmu agama.
Meski begitu, isu ini tetap menjadi perbincangan hangat di kalangan netizen. Sebagian menganggap joget THR hanya sebagai hiburan, namun sebagian lainnya mengingatkan agar tren tersebut tidak dilakukan secara membabi buta, terlebih jika berpotensi menyalahi nilai-nilai agama.