Ilustrasi (Foto: Kompas)
Terasmuslim.com - Sahur merupakan salah satu sunnah dalam ibadah puasa yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Selain memberikan energi untuk menjalani puasa, sahur juga membawa keberkahan bagi yang menjalankannya. Namun, tahukah Anda bahwa kebiasaan sahur dalam Islam memiliki sejarah yang unik? Salah satu peristiwa yang melatarbelakangi pentingnya sahur adalah kisah seorang sahabat Nabi yang pernah pingsan karena berpuasa tanpa makan sahur.
Pada masa awal Islam, aturan puasa belum seperti sekarang. Saat itu, umat Muslim diperbolehkan makan dan minum hingga waktu Isya, setelah itu mereka tidak boleh makan hingga keesokan harinya. Salah satu sahabat Rasulullah SAW, Qais bin Sirmah Al-Anshari, mengalami kejadian yang mengubah aturan tersebut.
Dikisahkan bahwa Qais bin Sirmah bekerja keras di siang hari dan berpuasa. Suatu malam, setelah pulang dari ladangnya, ia sangat lelah dan langsung tertidur sebelum sempat makan. Karena aturan saat itu melarang makan setelah tidur, ia pun tidak bisa makan apapun hingga esok hari. Akibatnya, ia menjalani puasa dalam kondisi lapar dan lemas. Ketika siang hari, tubuhnya tidak mampu menahan beban puasa tanpa sahur, hingga akhirnya ia pingsan.
Kisah ini sampai kepada Rasulullah SAW, dan kemudian Allah menurunkan wahyu dalam Surah Al-Baqarah ayat 187:
"Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu… dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar..." (QS. Al-Baqarah: 187)
Dengan turunnya ayat ini, aturan puasa berubah menjadi seperti yang dikenal saat ini: umat Islam diperbolehkan makan dan minum hingga waktu fajar tiba. Sejak saat itu, sahur menjadi bagian penting dalam puasa, yang juga ditekankan sebagai sunnah oleh Rasulullah SAW.
Setelah kejadian tersebut, Rasulullah SAW selalu menganjurkan umatnya untuk makan sahur. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, beliau bersabda:
"Bersahurlah kalian, karena dalam sahur terdapat keberkahan." (HR. Bukhari dan Muslim)
Keberkahan sahur bukan hanya dalam bentuk kekuatan fisik untuk menjalani puasa, tetapi juga karena sahur adalah momen yang penuh dengan doa dan ibadah. Rasulullah SAW bahkan menyebut sahur sebagai pembeda antara puasa umat Islam dengan puasa umat terdahulu.
Rasulullah SAW juga menganjurkan untuk mengakhirkan sahur, mendekati waktu fajar. Dalam sebuah hadis disebutkan:
"Kami makan sahur bersama Nabi, kemudian beliau bangkit untuk shalat." Aku bertanya, "Berapa lama jarak antara sahur dan shalat?" Beliau menjawab, "Sekitar bacaan lima puluh ayat." (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari hadis ini, dapat diketahui bahwa waktu terbaik untuk sahur adalah mendekati azan Subuh.