Ilustrasi - Pemantauan hilal, metode penentuan awal Ramadhan di Indonesia (Foto: RRI)
Terasmuslim.com - Menjelang bulan Ramadan, umat Islam di Indonesia pasti sudah tidak sabar menantikan kapan hari pertama puasa akan dimulai. Penentuan ini menjadi topik utama, dengan dua metode yang selalu menjadi acuan, yakni rukyatul hilal dan hisab.
Meskipun keduanya berlandaskan pada ilmu pengetahuan yang kuat, metode ini memiliki pendekatan yang berbeda. Inilah penjelasan mengenai dua metode penentuan hilal atau penentuan awal Ramadan yang sering jadi perbincangan di Indonesia.
Rukyatul hilal adalah metode pengamatan bulan sabit yang muncul setelah matahari terbenam. Ketika bulan baru dimulai, hilal yang sangat tipis hanya dapat terlihat dalam kondisi cuaca cerah dan tanpa hambatan awan tebal. Proses pengamatan ini menjadi penentu dimulainya bulan Hijriah, termasuk awal Ramadan. Namun, pengamatan hilal tidak selalu bisa dilakukan di setiap wilayah, karena faktor geografis dan kondisi cuaca yang berbeda.
Berbeda dengan rukyatul hilal, hisab melibatkan perhitungan matematis dan astronomis untuk memprediksi kapan hilal akan muncul. Dengan menganalisis posisi bulan dan matahari, metode ini memberikan prediksi yang lebih tepat tentang kapan hilal akan terlihat. Hisab sangat bergantung pada data ilmiah, dan dengan teknologi saat ini, perhitungan ini sangat akurat.
Meski keduanya memiliki dasar ilmiah yang kuat, terdapat perbedaan dalam penerapan kriteria di berbagai organisasi Islam di Indonesia. Misalnya, perbedaan dalam ketinggian hilal minimal dan elongasi bulan memengaruhi hasil pengamatan.
Sejak 2021, pemerintah Indonesia dan beberapa ormas Islam memperbarui kriteria penentuan hilal dengan menetapkan ketinggian hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Perubahan ini menjadikan pengamatan hilal lebih ketat dibandingkan dengan kriteria sebelumnya.
Faktor geografis dan kondisi cuaca sangat memengaruhi akurasi rukyatul hilal. Indonesia, dengan wilayah yang luas dan cuaca yang bervariasi, sering kali menghadapi kendala dalam pengamatan hilal. Awan tebal atau kondisi cuaca buruk bisa menghalangi tampaknya hilal meskipun teknologi canggih seperti teleskop dan kamera digital telah digunakan. Namun, dengan kemajuan teknologi, seperti image stacking (menggabungkan ratusan gambar), kini pengamatan hilal semakin akurat.
Pertanyaan tentang mana yang lebih akurat antara rukyatul hilal dan hisab sering kali menjadi perdebatan. Meskipun hisab memberikan hasil perhitungan yang sangat tepat, banyak umat Islam yang masih mengutamakan rukyat sebagai cara untuk memastikan dimulainya bulan Ramadan. Profesor Thomas Djamaludin, ahli astronomi dari Pusat Riset Antariksa BRIN, menjelaskan bahwa baik rukyat maupun hisab sebenarnya memiliki keterbatasan. Keduanya bersifat dugaan dan tidak bisa dijamin 100% akurat. Menurutnya, dalam rukyatul hilal, pengamat harus benar-benar yakin dengan apa yang mereka lihat, karena hilal yang sangat tipis bisa terpengaruh oleh cahaya lain atau kondisi cuaca.
Menariknya, meskipun Indonesia berada di timur dan secara geografis seharusnya lebih dulu melihat hilal, sering kali negara-negara seperti Arab Saudi yang lebih dahulu menentukan awal Ramadan atau Idul Fitri. Hal ini bukan karena perbedaan metode hisab atau rukyat, melainkan karena keputusan pemerintah masing-masing negara.
Sebagai informasi, hari ini, Jumat (28/2/2025), pemerintah Indonesia akan menggelar Sidang Isbat untuk menetapkan awal bulan Ramadan 1446 Hijriah. Forum resmi yang digelar melalui Kementerian Agama, untuk memutuskan hasil pengamatan hilal dan menetapkan awal bulan Ramadan ini biasanya dihadiri oleh para ahli astronomi, perwakilan ormas Islam, serta petugas yang melakukan pengamatan hilal di berbagai wilayah Indonesia.
Hasil Sidang Isbat inilah yang menjadi acuan dari pemerintah untuk penetapan awal puasa di Indonesia.