Ilustrasi (Foto: istockphoto)
Terasmuslim.com - Dalam sejarah Islam, kisah Fir’aun menjadi salah satu cerita yang paling terkenal sebagai simbol kesombongan dan keangkuhan manusia. Sosok penguasa Mesir ini menolak kebenaran yang disampaikan oleh Nabi Musa ‘alaihis salam dan bahkan mengklaim dirinya sebagai tuhan. Namun, akhir hidup Fir’aun menjadi peringatan besar bagi umat manusia tentang konsekuensi dari kesombongan dan penolakan terhadap kebenaran.
Fir’aun dikenal sebagai pemimpin yang zalim dan sombong. Ketika Nabi Musa diutus oleh Allah untuk menyampaikan pesan tauhid, Fir’aun justru menentang dengan keras. Ia bahkan berupaya membunuh Nabi Musa dan kaum Bani Israil yang mengikuti ajaran tauhid.
Fir’aun mengklaim bahwa dirinya adalah tuhan yang patut disembah oleh rakyatnya, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:
"Aku adalah tuhanmu yang paling tinggi." (QS. An-Nazi’at: 24)
Namun, kesombongan Fir’aun mencapai titik kehancuran ketika ia mengejar Nabi Musa dan Bani Israil yang tengah melarikan diri dari Mesir. Dalam kisah yang diceritakan Al-Qur’an, Nabi Musa dengan izin Allah membelah Laut Merah untuk memberikan jalan bagi kaumnya. Fir’aun dan pasukannya pun mengejar mereka hingga ke tengah laut yang telah terbelah tersebut.
Ketika Nabi Musa dan kaumnya berhasil menyeberang, laut yang sebelumnya terbelah kembali menutup. Fir’aun dan pasukannya tenggelam di tengah laut. Pada saat itulah, Fir’aun menyadari kesalahannya dan berteriak mengakui keberadaan Allah:
"Aku percaya bahwa tidak ada tuhan selain Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." (QS. Yunus: 90)
Namun, pengakuan ini datang terlambat. Allah tidak menerima taubat Fir’aun karena ia baru menyatakan keimanannya ketika maut sudah di depan mata. Dalam ayat berikutnya, Allah berfirman:
"Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS. Yunus: 91)
Kisah tragis Fir’aun ini menjadi peringatan yang jelas bagi umat manusia. Kesombongan dan penolakan terhadap kebenaran dapat membawa kehancuran yang besar, baik di dunia maupun di akhirat. Allah memberikan kesempatan kepada setiap manusia untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar, namun waktu untuk bertobat tidaklah tanpa batas. Ketika ajal tiba, penyesalan tidak lagi berguna.
Fir’aun adalah bukti nyata dari bagaimana kesombongan bisa menggelapkan hati seseorang hingga ia mengabaikan tanda-tanda kebenaran yang jelas. Sebagai umat Islam, kita diajarkan untuk mengambil pelajaran dari kisah ini, bersikap rendah hati, dan senantiasa memohon ampunan kepada Allah sebelum terlambat.
Tidak hanya menjadi cerita sejarah, tetapi juga pelajaran moral dan spiritual yang relevan sepanjang masa. Fir’aun menjadi contoh buruk tentang bagaimana kekuasaan dan harta dapat membuat manusia lupa diri. Dalam kehidupan sehari-hari, penting bagi kita untuk selalu introspeksi dan menjaga keimanan, agar tidak terjerumus ke dalam kesombongan yang serupa.
Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari kisah ini dan menjadi hamba Allah yang selalu tawadhu’ serta berpegang teguh pada ajaran-Nya.