
Ilustrasi foto hukum manusia vs hukum Islam
Terasmuslim.com - Setiap manusia senantiasa dihadapkan pada dua pilihan jalan hidup, yaitu pasrah mengikuti syariat Allah atau tunduk pada bisikan hawa nafsu.
Menjalani hidup yang diatur oleh Allah berarti menyelaraskan seluruh keputusan pribadi dengan batasan hukum Al-Qur`an dan As-Sunnah.
Sebaliknya, hidup yang diatur oleh nafsu hanya berorientasi pada kepuasan emosional sesaat tanpa mempedulikan batas halal dan haram.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Qashash ayat 50: "Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun?"
Ayat tersebut menjadi peringatan tegas bahwa keterikatan pada dorongan subjektif tanpa bimbingan wahyu hanya akan membawa kesesatan.
Orang yang menyerahkan ketetapan hidupnya kepada Allah senantiasa mengedepankan prinsip sami`na wa atha`na atau mendengar dan menaati.
Sementara itu, orang yang memperturutkan ego cenderung menjadikan pemikiran dan kesenangan pribadinya sebagai standar kebenaran utama.
Fenomena menjadikan keinginan diri sebagai tolok ukur ini disinggung pula dalam Surah Al-Jatsiyah ayat 23 tentang orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai tuhannya.
Ketika syariat dipandu oleh dalil, jiwa akan merasakan ketenangan hakiki karena berjalan di atas fithrah yang diratai keridhaan Ilahi.
Namun saat dorongan emosional bertindak sebagai pemegang kendali, manusia rentan terjebak dalam prasangka palsu serta angan-angan kosong.
Rasulullah SAW memperkuat landasan ini melalui hadis riwayat Al-Baihaqi: "Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga hawa nafsunya tunduk pada ajaran yang aku bawa."
Berdasarkan petunjuk hadis tersebut, kesempurnaan iman hanya bisa dicapai melalui proses mujahadah an-nafs atau perjuangan menundukkan ego.
Perbedaan mendasar dari kedua tata cara hidup ini bermuara pada hasil akhir yang akan diterima oleh setiap insan di akhirat kelak.
Ketaatan kepada Allah mengantarkan seorang hamba pada keselamatan, sedangkan penyerahan diri pada syahwat membuka pintu kehancuran moral.
Oleh karena itu, penting bagi setiap muslim untuk terus mengintrospeksi niat agar seluruh langkah hidupnya murni berada di bawah naungan wahyu-Nya.
TAGS : diatur Allah hawa nafsu petunjuk Al-Quran