KEISLAMAN

Dakwah Digital Menjamur, Bagaimana Menjaga Keaslian Ilmu Agama?

Yahya Sukamdani| Rabu, 08/07/2026
Tantangan menyaring kredibilitas sumber kajian Islam di ruang siber. Ilustrasi foto teknologi digital dalam penyebaran ilmu Islam

Terasmuslim.com - Geliat dakwah Islam di ruang digital saat ini tumbuh sangat pesat dan mewarnai beranda media sosial kita setiap hari.

Kemudahan akses ini membuat siapa saja bisa belajar agama kapan saja dan di mana saja hanya lewat layar gawai mereka.

Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul tantangan besar berupa menjamurnya konten agama yang tidak jelas sanad dan kredibilitasnya.

Fenomena potongan video pendek yang terputus dari konteks utuhnya sering kali memicu salah paham dan perdebatan di kalangan umat.

Baca juga :

Allah SWT telah mengingatkan dalam Al-Qur`an Surat Al-Isra ayat 36 agar kita tidak mengikuti sesuatu tanpa landasan ilmu yang sahih.

"Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya." (QS. Al-Isra: 36)

Belajar agama di era digital memerlukan ketelitian ekstra agar kita tidak berguru pada kecerdasan buatan atau sekadar orator tiruan.

Para ulama terdahulu selalu menekankan pentingnya memeriksa dari siapa kita mengambil ilmu agama demi keselamatan akidah kita sendiri.

Imam Muslim dalam mukadimah kitab sahihnya menukil perkataan ulama besar Muhammad bin Sirin mengenai urgensi sanad dalam beragama.

"Sesungguhnya ilmu (hadist) ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian." (Mukadimah Sahih Muslim)

Tanpa adanya silsilah keilmuan yang jelas, setiap orang akan dengan mudah menafsirkan ayat dan hadist sesuai hawa nafsu mereka sendiri.

Rasulullah SAW juga telah mengabarkan akan datangnya suatu zaman di mana manusia mengangkat pemimpin yang bodoh sebagai rujukan agama.

"...Sehingga ketika tidak tersisa lagi seorang ulama, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh, lalu mereka ditanya dan berfatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan." (HR. Bukhari)

Kajian daring mempermudah syiar, tetapi ia tidak akan pernah bisa menggantikan keberkahan dari duduk bersimpuh di majelis ilmu yang nyata.

Interaksi langsung dengan guru memberikan didikan akhlak, keteladanan, serta pemahaman mendalam yang tidak bisa didapatkan dari algoritma internet.

Oleh karena itu, media sosial harus diposisikan sebagai jembatan informasi awal, bukan sebagai sumber utama untuk mengeluarkan fatwa agama.

Mari kita lebih selektif dalam memilih akun dakwah dengan mengutamakan para asatidz yang memiliki rekam jejak keilmuan yang lurus dan diakui.

Menjaga kemurnian syariat di dunia maya adalah tanggung jawab bersama agar generasi mendatang menerima Islam yang kafah dan autentik.

TAGS : dakwah digital keaslian ilmu tantangan dakwah medsos

Terkini