
Ilustrasi perempuan sedang haid (Foto: Bincangsyariah)
Terasmuslim.com - Datangnya haid pada malam-malam terakhir Ramadhan seringkali membuat sebagian wanita merasa sedih. Apalagi jika masa tersebut bertepatan dengan malam-malam yang sangat dimuliakan, seperti sepuluh malam terakhir yang di dalamnya terdapat malam Lailatul Qadar. Perasaan kehilangan kesempatan untuk shalat malam, berpuasa, dan beritikaf kadang membuat hati menjadi gundah. Namun dalam pandangan syariat Islam, kondisi ini bukanlah sebuah kerugian, karena Allah SWT tetap membuka banyak pintu pahala bagi wanita yang sedang haid.
Dalam Islam, haid adalah ketetapan alami yang Allah berikan kepada kaum wanita. Karena itu, syariat memberikan keringanan dengan tidak mewajibkan shalat dan puasa bagi wanita yang sedang haid. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, ketika Rasulullah SAW menjelaskan bahwa wanita yang haid tidak melaksanakan shalat dan puasa, lalu ia mengganti puasa di hari lain namun tidak diwajibkan mengganti shalat. Keringanan ini menunjukkan betapa Islam adalah agama yang penuh rahmat dan kemudahan.
Meski tidak dapat melaksanakan ibadah tertentu seperti shalat, puasa, dan itikaf di masjid, wanita yang sedang haid tetap dapat memperbanyak berbagai amalan lain. Di antaranya adalah berdzikir, beristighfar, bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, memperbanyak doa, serta mendengarkan atau mempelajari Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an bahwa orang-orang yang banyak mengingat Allah, baik laki-laki maupun perempuan, akan mendapatkan ampunan dan pahala yang besar (QS. Al-Ahzab: 35).
Sebagian ulama juga membolehkan wanita haid membaca Al-Qur’an tanpa menyentuh mushaf secara langsung, misalnya melalui hafalan atau menggunakan media digital. Pendapat ini dipegang oleh sejumlah ulama kontemporer karena tidak terdapat dalil yang tegas melarangnya secara mutlak. Dengan demikian, wanita tetap dapat merasakan keberkahan Ramadhan dengan membaca, mentadabburi, atau mendengarkan ayat-ayat suci Al-Qur’an.
Selain itu, amal kebaikan lain seperti bersedekah, membantu keluarga menyiapkan sahur dan berbuka, serta mempererat silaturahmi juga termasuk ibadah yang bernilai pahala. Bahkan dalam banyak kesempatan, Rasulullah SAW mengajarkan bahwa setiap kebaikan yang dilakukan dengan niat ikhlas akan dicatat sebagai amal saleh. Oleh sebab itu, kesempatan meraih pahala di bulan Ramadhan tetap terbuka luas bagi siapa saja, termasuk wanita yang sedang haid.
Dengan demikian, haid pada malam terakhir Ramadhan tidak seharusnya membuat seorang muslimah merasa putus asa. Allah SWT Maha Mengetahui kondisi hamba-Nya dan tidak membebani seseorang di luar kemampuannya. Selama hati tetap terhubung dengan Allah melalui dzikir, doa, dan amal kebaikan, maka keberkahan Ramadhan dan peluang meraih pahala besar tetap dapat diraih oleh setiap muslimah.
TAGS : ibadah wanita haid dzikir saat haid