
Ilustrasi foto kisah Nabi
Terasmuslim.com - Dalam ajaran Islam, Nabi Isa ‘alaihissalam merupakan salah satu nabi dan rasul yang dimuliakan oleh Allah. Ia diutus kepada Bani Israil untuk mengajak mereka menyembah Allah Yang Maha Esa. Namun Al-Qur’an dengan tegas menjelaskan bahwa Nabi Isa bukanlah Tuhan, melainkan manusia pilihan yang diberi wahyu dan mukjizat. Penegasan ini penting karena dalam sebagian keyakinan lain, Nabi Isa dianggap memiliki sifat ketuhanan.
Allah secara jelas menyebutkan dalam Al-Qur’an Surah Al-Maidah ayat 75 bahwa Nabi Isa adalah seorang rasul seperti para rasul sebelumnya. Dalam ayat tersebut Allah berfirman bahwa Isa putra Maryam hanyalah seorang rasul dan ibunya adalah seorang perempuan yang sangat benar. Bahkan Al-Qur’an menegaskan bahwa keduanya biasa memakan makanan, yang menunjukkan bahwa mereka adalah manusia.
Ayat tersebut berbunyi, “Al-Masih putra Maryam hanyalah seorang rasul; sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rasul. Ibunya seorang yang sangat benar, keduanya biasa memakan makanan.” Penjelasan bahwa Nabi Isa makan dan minum menjadi dalil kuat bahwa beliau memiliki sifat manusiawi. Dalam akidah Islam, Tuhan tidak membutuhkan makan atau minum karena Allah Maha Kaya dan tidak bergantung kepada apa pun.
Selain itu, Al-Qur’an juga menegaskan dalam Surah Al-Ikhlas bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Ayat ini menjadi dasar tauhid bahwa tidak ada makhluk yang memiliki sifat ketuhanan selain Allah. Karena itu, menuhankan manusia, termasuk nabi sekalipun, bertentangan dengan prinsip tauhid yang diajarkan para nabi.
Dalam berbagai penjelasan ulama, semua nabi diutus membawa pesan yang sama, yaitu mengajak manusia menyembah Allah semata. Nabi Isa sendiri menyeru kaumnya agar menyembah Allah sebagai Tuhan mereka. Hal ini juga ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Maidah ayat 72 yang menyatakan bahwa orang yang mengatakan Allah adalah Al-Masih putra Maryam telah melakukan kekafiran.
Dengan demikian, Islam memuliakan Nabi Isa sebagai nabi besar dan rasul yang penuh mukjizat, tetapi tetap menempatkannya sebagai manusia dan hamba Allah. Penjelasan Al-Qur’an tentang Nabi Isa yang makan dan minum menjadi bukti bahwa beliau bukan Tuhan. Ajaran ini menegaskan kembali prinsip tauhid bahwa hanya Allah satu-satunya Tuhan yang layak disembah oleh seluruh manusia.