KEISLAMAN

Setan Dibelenggu Saat Ramadhan, Mengapa Maksiat Masih Terjadi?

Yahya Sukamdani| Senin, 02/03/2026
Meski setan dibelenggu, hawa nafsu tetap mengintai manusia di Ramadhan. Ilustrasi foto gangguan setan

Terasmuslim.com - Bulan Ramadhan dikenal sebagai bulan penuh rahmat dan ampunan. Dalam sebuah hadist shahih, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim). Namun pertanyaan yang sering muncul di tengah umat adalah: jika setan dibelenggu, mengapa maksiat masih tetap terjadi?

Para ulama menjelaskan bahwa yang dibelenggu adalah setan-setan yang paling durhaka (maradah asy-syayathin), bukan seluruh jenis gangguan. Selain itu, manusia tetap memiliki hawa nafsu yang cenderung pada keburukan. Allah SWT berfirman dalam Surah Yusuf ayat 53, “Sesungguhnya nafsu itu benar-benar selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” Ayat ini menegaskan bahwa sumber kemaksiatan tidak hanya berasal dari setan, tetapi juga dari dalam diri manusia sendiri.

Di samping hawa nafsu, kebiasaan buruk yang telah mengakar sebelum Ramadhan juga menjadi faktor kuat. Seseorang yang terbiasa dengan ghibah, menunda shalat, atau lalai dari Al-Qur’an, tidak serta-merta berubah hanya karena masuknya bulan suci. Ramadhan adalah momentum latihan spiritual, namun perubahan membutuhkan kesungguhan dan mujahadah (perjuangan melawan diri sendiri). Tanpa tekad dan doa, kebiasaan lama bisa kembali menguasai.

Tak hanya itu, Al-Qur’an juga mengingatkan adanya “setan dari golongan manusia.” Dalam Surah Al-An’am ayat 112 disebutkan bahwa di antara musuh para nabi adalah setan-setan dari jenis manusia dan jin yang saling membisikkan perkataan indah untuk menipu. Artinya, pengaruh lingkungan, pergaulan, media sosial, dan ajakan teman bisa menjadi pintu maksiat meskipun setan jin sedang dilemahkan.

Baca juga :

Karena itu, Ramadhan sejatinya adalah ajang pembuktian kualitas iman. Jika setan dibelenggu namun maksiat tetap dilakukan, maka yang perlu dibenahi adalah hati dan nafsu kita. Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari perkataan dan perbuatan sia-sia. Inilah hakikat takwa yang menjadi tujuan utama puasa sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 183.

Akhirnya, solusi terbaik adalah memperbanyak doa dan memohon pertolongan Allah SWT. Tanpa taufik-Nya, manusia mudah tergelincir. Mari kita perbanyak istighfar, dzikir, dan munajat agar hati diteguhkan dalam kebaikan. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang tetap bermaksiat di bulan yang suci ini. Banyak-banyak minta pertolongan kepada Allah agar Ramadhan benar-benar menjadi jalan perubahan menuju ketakwaan. Aamiin.

TAGS : maksiat saat puasa hawa nafsu dalil Ramadhan

Terkini