
Ilustrasi peninggalan di Yaman
Terasmuslim.com - Sejarah Kaum Saba adalah salah satu kisah besar yang diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai pelajaran lintas zaman. Kaum ini mendiami wilayah Yaman kuno dan dikenal sebagai bangsa yang maju dalam pertanian, perdagangan, serta teknologi pengairan. Nama Saba disebut secara khusus dalam Surah Saba, menunjukkan pentingnya kisah mereka dalam perspektif wahyu. Allah menggambarkan negeri mereka sebagai “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur” negeri yang baik dan Tuhan Yang Maha Pengampun (QS. Saba: 15).
Secara historis, Saba diyakini berdiri sejak ribuan tahun sebelum Masehi di wilayah selatan Jazirah Arab. Mereka membangun peradaban yang kuat berkat sistem irigasi canggih, termasuk Bendungan Ma’rib yang masyhur. Bendungan ini menjadikan tanah mereka subur dan menghasilkan kebun-kebun yang melimpah. Dalam Al-Qur’an digambarkan dua kebun di sebelah kanan dan kiri sebagai simbol kemakmuran yang Allah anugerahkan kepada mereka.
Dalam lintasan sejarah kenabian, Saba juga terkait dengan kisah Ratu Bilqis yang hidup pada masa Nabi Sulaiman. Kisah ini termaktub dalam Surah An-Naml, ketika Nabi Sulaiman mengajak sang ratu dan kaumnya untuk menyembah Allah semata. Al-Qur’an menuturkan bagaimana Ratu Bilqis akhirnya tunduk dan beriman, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan seluruh alam” (QS. An-Naml: 44). Peristiwa ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat Saba pernah menerima cahaya tauhid.
Namun seiring waktu, generasi setelahnya banyak yang lalai dan berpaling dari perintah Allah. Mereka kufur terhadap nikmat dan enggan bersyukur. Dalam QS. Saba: 16, Allah menjelaskan bagaimana bendungan mereka jebol dan negeri yang subur berubah menjadi tandus, diganti dengan kebun-kebun berbuah pahit. Peristiwa yang dikenal sebagai banjir besar Ma’rib menjadi simbol kehancuran akibat kesombongan dan pembangkangan kolektif.
Kisah Kaum Saba menegaskan sunnatullah dalam sejarah: kemakmuran tidak menjamin keselamatan jika tidak diiringi iman dan syukur. Rasulullah SAW pun mengingatkan dalam banyak hadist bahwa nikmat akan dicabut jika manusia melupakan Sang Pemberi Nikmat. Sejarah Saba bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan cermin bagi bangsa mana pun yang diberi kelimpahan tetapi lalai menjaga ketaatan.
Dari Saba, umat Islam belajar bahwa peradaban sejati berdiri di atas fondasi tauhid dan rasa syukur. Kemajuan teknologi dan ekonomi hanyalah sarana, bukan jaminan kekekalan. Jika iman terjaga, negeri akan diberkahi; jika kufur merajalela, kehancuran menjadi keniscayaan. Inilah pesan abadi Al-Qur’an yang menjadikan kisah Kaum Saba sebagai pelajaran bagi orang-orang yang berpikir.
TAGS : negeri Saba kehancuran kaum asal muasal