
Ilustrasi foto sahabat Nabi SAW
Terasmuslim.com - Nama Abdullah bin Ummi Maktum mungkin tidak setenar sahabat besar lainnya, namun kisahnya diabadikan langsung dalam Al-Qur’an. Ia adalah seorang sahabat tunanetra yang memiliki semangat luar biasa dalam menuntut ilmu dan mendekat kepada Rasulullah SAW. Keimanannya menjadi pelajaran sepanjang zaman tentang kemuliaan seorang hamba di sisi Allah, bukan karena fisik, melainkan karena ketakwaannya.
Suatu hari, ketika Rasulullah SAW sedang berdakwah kepada para pembesar Quraisy, Abdullah bin Ummi Maktum datang meminta diajarkan ayat-ayat Allah. Karena fokus pada dakwah kepada tokoh-tokoh penting, Nabi SAW sempat bermuka masam dan berpaling. Maka Allah SWT menurunkan teguran dalam Surah ‘Abasa ayat 1–10: “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena seorang buta telah datang kepadanya…” Ayat ini bukan merendahkan Nabi SAW, melainkan menunjukkan betapa Allah memuliakan seorang mukmin yang tulus mencari hidayah.
Sejak peristiwa itu, Rasulullah SAW sangat memuliakan Abdullah bin Ummi Maktum. Setiap kali bertemu, beliau menyambutnya dengan hangat dan berkata bahwa ia adalah orang yang karenanya Allah menegur beliau. Ini menunjukkan akhlak Nabi SAW yang begitu lembut dan rendah hati. Teguran dari langit itu justru mengangkat derajat Abdullah bin Ummi Maktum di hadapan umat Islam.
Dalam hadist riwayat Abdullah bin Umar disebutkan bahwa Nabi SAW memiliki dua muadzin: Bilal bin Rabah dan Abdullah bin Ummi Maktum. Ia mengumandangkan adzan Subuh setelah masuknya waktu fajar. Meski tunanetra, ia dipercaya memegang tugas mulia tersebut. Bahkan dalam beberapa kesempatan, Rasulullah SAW menunjuknya sebagai pemimpin sementara di Madinah ketika beliau bepergian.
Semangat jihadnya pun tak kalah besar. Meski memiliki keterbatasan fisik, ia tetap ingin turut serta dalam peperangan. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, ia ikut dalam Perang Qadisiyah dengan membawa panji kaum Muslimin. Ia gugur sebagai syahid di medan perang, membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi seseorang meraih kemuliaan di sisi Allah.
Kisah Abdullah bin Ummi Maktum mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan bukan pada rupa, kedudukan, atau kekuatan fisik, tetapi pada iman dan kesungguhan mencari kebenaran. Allah SWT sendiri yang membelanya melalui wahyu. Ia adalah teladan bahwa siapa pun yang tulus mendekat kepada Allah akan dimuliakan, bahkan namanya dikenang hingga akhir zaman.
TAGS : sahabat tunanetra Rasulullah muadzin Nabi Muhammad