
Ilustrasi lafadz Nabi Muhammad SAW (Foto: Pexels/Necati Ömer Karpuzoğlu)
Terasmuslim.com - Pertanyaan tentang siapa yang harus diikuti agar selamat kyai, ustadz, habib, atau Rasulullah SAW sering muncul di tengah umat. Islam menegaskan bahwa sumber keselamatan adalah mengikuti wahyu Allah dan sunnah Nabi. Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa: 59, “Jika kamu berselisih dalam sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul.” Ayat ini menjadi fondasi bahwa rujukan tertinggi dalam agama adalah Al-Qur’an dan sunnah, bukan figur semata.
Rasulullah SAW sendiri menegaskan dalam hadis sahih, “Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara; kalian tidak akan tersesat selama berpegang kepada keduanya: Kitabullah dan sunnahku.” Sabda Nabi Muhammad SAW ini memperjelas bahwa keselamatan terikat pada ittiba’ (mengikuti) beliau. Ketaatan kepada Nabi bukan pilihan tambahan, melainkan konsekuensi iman, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Hasyr: 7, “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka ambillah, dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah.”
Lalu bagaimana posisi kyai, ustadz, atau habib? Mereka adalah pewaris ilmu para nabi yang tugasnya membimbing umat kepada Al-Qur’an dan sunnah. Rasulullah SAW bersabda bahwa para ulama adalah pewaris para nabi. Namun, kedudukan mereka tetap sebagai penunjuk jalan, bukan sumber kebenaran mutlak. Jika pendapat seorang tokoh selaras dengan dalil, maka diikuti; jika bertentangan, maka yang didahulukan adalah wahyu.
Sejarah Islam menunjukkan bahwa para imam besar pun mengingatkan agar tidak fanatik buta. Imam Malik pernah berkata bahwa setiap orang bisa diambil dan ditolak pendapatnya, kecuali penghuni kubur ini seraya menunjuk makam Rasulullah SAW. Prinsip ini menegaskan bahwa otoritas tertinggi dalam agama ada pada Nabi, bukan pada gelar atau keturunan seseorang.
Fanatisme kepada figur tanpa landasan dalil dapat menyeret pada kesalahan. Allah SWT mengingatkan dalam QS. Al-Ahzab: 67 bahwa di hari kiamat ada orang yang menyesal karena mengikuti pemimpin-pemimpin mereka tanpa berpikir kritis terhadap kebenaran. Ayat ini menjadi pelajaran bahwa tanggung jawab iman bersifat personal; setiap individu akan dimintai pertanggungjawaban atas pilihannya.
Kesimpulannya, keselamatan diraih dengan mengikuti Rasulullah SAW berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah yang sahih. Kyai, ustadz, dan habib dihormati serta diikuti selama mereka menuntun kepada ajaran Nabi. Loyalitas utama seorang muslim bukan kepada figur, melainkan kepada kebenaran wahyu. Dengan prinsip ini, umat akan tetap berada di atas jalan yang lurus menuju keselamatan dunia dan akhirat.
TAGS : taat kepada Rasul bahaya fanatisme wajib diikuti