KEISLAMAN

Melafadzkan Niat Puasa Usai Tarawih, Adakah Contoh dari Rasulullah?

Yahya Sukamdani| Sabtu, 21/02/2026
Benarkah melafalkan niat puasa bersama setelah tarawih dicontohkan Nabi Muhammad SAW? Ilustrasi hati sebagai pengingat

Terasmuslim.com - Tradisi melafadzkan niat puasa secara berjamaah setelah shalat tarawih kerap ditemui di berbagai masjid saat Ramadhan. Namun, pertanyaannya: adakah contoh langsung dari Nabi Muhammad SAW mengenai praktik tersebut? Dalam menilai sebuah amalan ibadah, kaum muslimin diperintahkan untuk kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Hasyr: 7, “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka ambillah, dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah.” Prinsip ini menjadi fondasi agar ibadah tidak sekadar tradisi, tetapi benar-benar berdasar tuntunan.

Para ulama sepakat bahwa niat adalah amalan hati, bukan amalan lisan. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa niat tempatnya di dalam hati. Tidak ada riwayat sahih yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW atau para sahabat melafadzkan niat puasa Ramadhan secara bersama-sama setelah tarawih. Karena itu, melafadzkan niat secara berjamaah bukanlah praktik yang memiliki landasan langsung dari sunnah.

Adapun terkait waktu niat, dalam puasa wajib seperti Ramadhan, niat harus dilakukan sebelum terbit fajar. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi). Hadis ini dipahami oleh mayoritas ulama bahwa niat cukup dihadirkan dalam hati pada malam hari. Tidak disyaratkan adanya lafadz tertentu, apalagi dilakukan secara kolektif.

Shalat tarawih sendiri merupakan sunnah yang dicontohkan Rasulullah SAW di bulan Ramadhan. Dalam riwayat sahih disebutkan bahwa beliau melaksanakannya beberapa malam bersama para sahabat, lalu tidak melanjutkannya karena khawatir diwajibkan. Namun tidak ada satu pun riwayat yang menyebutkan beliau menutup tarawih dengan melafadzkan niat puasa secara bersama-sama. Ketiadaan dalil ini menjadi indikasi bahwa amalan tersebut bukan bagian dari tuntunan ibadah yang beliau ajarkan.

Baca juga :

Meski demikian, para ulama menjelaskan bahwa melafadzkan niat secara individu sebagai bentuk membantu hati menghadirkan niat tidak sampai membatalkan puasa, selama diyakini bahwa niat sejatinya di hati. Namun, menjadikannya sebagai ritual rutin berjamaah yang dianggap bagian dari sunnah perlu diluruskan agar tidak menimbulkan anggapan bahwa itu adalah ajaran baku dari Rasulullah SAW.

Ramadhan adalah bulan ibadah yang menuntut ketelitian dalam mengikuti sunnah. Semangat beribadah hendaknya disertai ilmu agar setiap amalan benar dan diterima. Menghadirkan niat dalam hati sebelum fajar sudah cukup untuk sahnya puasa. Yang terpenting bukanlah lantangnya lafadz, melainkan keikhlasan hati dan kesungguhan menjalankan puasa sesuai tuntunan Rasulullah SAW.

TAGS : melafadzkan niat puasa sunnah Rasulullah bid`ah niat

Terkini