
Ilustrasi orang-orang saat mendengarkan khotbah jumat (Foto: Muhammadiyah)
Terasmuslim.com - Hari Jumat memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Ia disebut sebagai sayyidul ayyam, penghulu seluruh hari. Pada hari inilah kaum muslimin diperintahkan untuk memperbanyak amal saleh, termasuk memperbanyak doa. Bagi seorang mukmin, Jumat adalah momentum ruhani untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperbaharui harapan melalui doa-doa yang dipanjatkan dengan penuh keyakinan.
Allah berfirman dalam Al-Qur`an, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan bagimu” (QS. Ghafir: 60). Ayat ini menjadi landasan kuat bahwa doa adalah ibadah yang agung. Di hari Jumat, perintah berdoa ini memiliki keutamaan tambahan, karena Allah menyediakan waktu khusus di mana doa seorang hamba tidak akan ditolak.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu mustajab. Tidaklah seorang muslim berdoa kepada Allah pada waktu itu untuk suatu kebaikan, melainkan Allah akan mengabulkannya. Para ulama berbeda pendapat tentang waktu pastinya, namun banyak yang menyebutkan waktu antara duduknya imam hingga shalat selesai, atau di akhir hari setelah Ashar. Perbedaan ini justru menjadi dorongan agar seorang muslim memperbanyak doa sepanjang hari Jumat.
Memperbanyak doa di hari Jumat bukan hanya soal meminta kebutuhan duniawi, tetapi juga memohon ampunan, keteguhan iman, dan keselamatan akhirat. Doa adalah pengakuan kelemahan hamba dan bukti ketergantungan kepada Allah. Ketika doa diperbanyak, hati menjadi lebih lembut, harapan tumbuh, dan jiwa terasa lebih tenang meski persoalan hidup belum sepenuhnya usai.
Pada akhirnya, hari Jumat adalah hadiah mingguan bagi umat Islam. Ia datang membawa peluang besar bagi siapa saja yang ingin mendekat kepada Allah. Memperbanyak doa di hari Jumat adalah tanda iman dan kecerdasan ruhani, karena seorang mukmin tidak melewatkan waktu mustajab tanpa mengetuk pintu langit. Siapa yang membiasakannya, insya Allah akan merasakan keberkahan dalam hidupnya.