KEISLAMAN

Ini Makna dari Dunia Hanyalah Baju Pinjaman

Yahya Sukamdani| Kamis, 12/02/2026
Harta, jabatan, dan kenikmatan dunia sering membuat manusia terlena. Padahal Islam mengajarkan bahwa semua itu hanyalah titipan yang suatu saat akan dilepaskan dan dikembalikan kepada Pemilik sejatinya. Ilustrasi foto jalan dunia dan surga

Terasmuslim.com - Kehidupan dunia dengan segala isinya kerap dipersepsikan sebagai tujuan akhir. Padahal, Islam memandang dunia hanyalah sarana, bukan tujuan. Perumpamaan dunia seperti baju pinjaman sangat tepat: dipakai sementara, memberi manfaat sesaat, lalu suatu hari harus dilepaskan. Allah SWT berfirman, “Kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.” (QS. Al-Baqarah: 284). Ayat ini menegaskan bahwa manusia pada hakikatnya tidak memiliki apa pun secara mutlak.

Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu. “Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Al-Hadid: 20). Seperti baju pinjaman yang tampak indah, dunia sering membuat pemakainya lupa bahwa ia bukan pemiliknya. Ketika waktu peminjaman habis, semua akan diambil kembali tanpa bisa ditawar, baik berupa harta, kesehatan, jabatan, bahkan nyawa.

Rasulullah SAW menggambarkan ringannya nilai dunia di sisi Allah. Beliau bersabda, “Dunia ini terlaknat dan apa yang ada di dalamnya terlaknat, kecuali dzikir kepada Allah dan apa yang mengikutinya.” (HR. Tirmidzi). Hadis ini tidak bermakna larangan menikmati dunia, tetapi peringatan agar manusia tidak menggantungkan hati pada sesuatu yang sifatnya sementara. Dunia hanyalah fasilitas untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan untuk dilalaikan.

Kesadaran bahwa dunia adalah titipan akan membentuk sikap hidup yang lebih bijak. Ketika mendapat nikmat, seorang mukmin tidak sombong karena sadar itu bukan miliknya. Ketika kehilangan, ia lebih mudah bersabar karena memahami bahwa Pemiliknya berhak mengambil kembali kapan saja. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156). Kalimat ini adalah pengakuan bahwa seluruh hidup manusia berada dalam kepemilikan Allah.

Baca juga :

Islam mengajarkan keseimbangan: tidak menolak dunia, tetapi tidak pula diperbudak olehnya. Rasulullah SAW bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.” (HR. Bukhari). Seorang musafir tentu tidak akan berlebihan mencintai pakaian pinjamannya, karena ia tahu perjalanan akan segera berakhir. Demikian pula seorang mukmin, menjadikan dunia sekadar bekal menuju akhirat.

Dengan memahami hakikat dunia sebagai baju pinjaman, hati akan lebih ringan dalam beramal dan lebih siap saat dipanggil kembali oleh Allah Rabbul ‘Alamin. Dunia akan digunakan untuk taat, bukan untuk maksiat; dimanfaatkan, bukan dipuja. Karena pada akhirnya, hanya amal saleh yang tetap melekat, sementara seluruh “baju dunia” akan kita lepaskan dan relakan kembali kepada Pemilik sejatinya.

TAGS : hakikat kehidupan dunia fana dunia kehidupan akhirat

Terkini