KEISLAMAN

Apa Itu Manhaj dan Manhaj Beragama yang Sesuai Ajaran Rasulullah SAW

Yahya Sukamdani| Sabtu, 31/01/2026
Manhaj beragama yang benar adalah mengikuti Al-Qur`an, sunnah Rasulullah SAW, dan pemahaman para sahabat agar tetap berada di jalan yang lurus. Ilustrasi foto cahaya Al quran dan sunnah Rasulullah

Terasmuslim.com - Manhaj secara bahasa berarti jalan yang jelas dan terang. Dalam konteks Islam, manhaj adalah metode, cara, atau sistem beragama yang ditempuh seorang Muslim dalam memahami, mengamalkan, dan mendakwahkan Islam. Manhaj bukan sekadar masalah cabang ibadah, tetapi mencakup akidah, ibadah, akhlak, muamalah, hingga sikap dalam menyikapi perbedaan. Allah berfirman, “Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang (manhaj)” (QS. Al-Ma’idah: 48), yang menunjukkan pentingnya mengikuti jalan yang benar dalam beragama.

Manhaj beragama yang benar adalah manhaj yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah ﷺ. Islam tidak dibangun di atas logika semata, tradisi, atau perasaan, melainkan wahyu. Allah berfirman, “Kemudian jika kamu berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul” (QS. An-Nisa: 59). Ayat ini menegaskan bahwa tolok ukur kebenaran manhaj adalah Al-Qur’an dan sunnah, bukan tokoh, kelompok, atau budaya tertentu.

Manhaj Rasulullah SAW adalah manhaj yang lurus dan seimbang, jauh dari sikap berlebih-lebihan maupun meremehkan agama. Rasulullah SAW bersabda, “Aku tinggalkan pada kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya: Kitabullah dan sunnahku” (HR. Malik). Hadis ini menunjukkan bahwa keselamatan umat terletak pada komitmen mengikuti manhaj Nabi ﷺ secara utuh, bukan memilih sebagian dan meninggalkan sebagian lainnya.

Manhaj beragama yang sesuai ajaran Rasulullah SAW juga tercermin dalam mengikuti pemahaman para sahabat. Mereka adalah generasi terbaik yang langsung belajar dari Nabi SAW. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian yang setelahnya, kemudian yang setelahnya” (HR. Bukhari dan Muslim). Karena itu, manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah menjadikan pemahaman sahabat sebagai rujukan utama dalam memahami dalil agar tidak menyimpang.

Baca juga :

Dalam praktiknya, manhaj Rasulullah SAW mengajarkan tauhid yang murni, ibadah sesuai tuntunan, akhlak yang mulia, serta sikap adil dan bijak dalam menyikapi perbedaan. Islam melarang fanatisme buta dan perpecahan. Allah berfirman, “Dan berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai” (QS. Ali ‘Imran: 103). Manhaj yang benar selalu mengarah pada persatuan di atas kebenaran, bukan persatuan di atas kebatilan.

Oleh karena itu, memahami dan mengikuti manhaj Rasulullah SAW adalah kebutuhan mendasar setiap Muslim. Manhaj yang lurus akan menjaga akidah, meluruskan ibadah, dan membimbing umat agar tetap istiqamah hingga akhir hayat. Dengan berpegang pada Al-Qur’an, sunnah, dan pemahaman para sahabat, seorang Muslim akan selamat dari kesesatan dan tetap berada di atas jalan yang diridhai Allah.

TAGS : manhaj Rasulullah makna manhaj Al-Qur`an dan sunnah

Terkini