
Ilustrasi foto terlewat waktu shalat
Terasmuslim.com - Waktu adalah nikmat besar sekaligus pengingat keras bagi manusia. Allah bahkan bersumpah dengan waktu dalam Al-Qur’an, “Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian” (QS. Al-‘Ashr: 1–2). Kerugian itu bukan karena berlalunya usia semata, tetapi karena iman tidak bertambah dan amal tidak mengiringinya. Ayat ini menegaskan bahwa ukuran keberuntungan seorang hamba bukan panjangnya waktu hidup, melainkan kualitas iman dan amal yang mengisi waktu tersebut.
Iman dalam Islam tidak statis; ia bisa bertambah dan berkurang. Allah berfirman, “Agar bertambah iman mereka di samping iman mereka yang telah ada” (QS. Al-Fath: 4). Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Iman itu memiliki lebih dari tujuh puluh cabang” (HR. Bukhari dan Muslim). Ini menunjukkan bahwa iman memerlukan pemeliharaan terus-menerus melalui ketaatan, ilmu, dan amal shalih. Ketika waktu berlalu tanpa diisi dengan kebaikan, iman pun perlahan melemah.
Para sahabat Rasulullah ﷺ sangat khawatir dengan kondisi iman mereka seiring berjalannya waktu. Mereka saling menasihati untuk memperbarui iman, sebagaimana ucapan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Marilah kita beriman sejenak”, maksudnya duduk mengingat Allah dan menambah iman. Ini mengajarkan bahwa iman perlu dihidupkan secara sadar, bukan dibiarkan mengikuti arus kesibukan dunia.
Karena itu, pertanyaan “waktu berlalu, iman kita bagaimana?” adalah muhasabah yang sangat penting. Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok” (QS. Al-Hasyr: 18). Selama waktu masih tersisa, pintu taubat dan perbaikan iman masih terbuka. Orang beriman yang cerdas bukanlah yang sekadar menua, tetapi yang imannya semakin kuat seiring berjalannya waktu.