
Ilustrasi rapat shaf shalat
Terasmuslim.com - Shalat merupakan ibadah utama dalam Islam yang menjadi tolok ukur hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya. Allah menegaskan keutamaan khusyuk dalam shalat, “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1–2). Ayat ini menunjukkan bahwa kekhusyukan bukan sekadar pelengkap, melainkan ciri keberuntungan orang beriman dan sebab diterimanya shalat di sisi Allah SWT.
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa kualitas shalat dinilai dari hadirnya hati. Beliau bersabda, “Sesungguhnya seseorang selesai dari shalatnya, namun tidak dicatat baginya kecuali sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan… dari shalatnya.” (HR. Abu Dawud). Hadis ini menegaskan bahwa shalat yang dilakukan tanpa khusyuk mengurangi pahala, karena pikiran dan hati tidak sepenuhnya tertuju kepada Allah.
Al-Qur’an juga memberi peringatan agar shalat tidak dilakukan dalam keadaan lalai. Allah berfirman, “Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4–5). Kelalaian di sini dipahami oleh para ulama sebagai shalat yang dikerjakan tanpa penghayatan, tergesa-gesa, dan sekadar menggugurkan kewajiban. Hal ini menunjukkan bahwa khusyuk adalah ruh shalat yang menghidupkan ibadah tersebut.
Untuk meraih khusyuk, Islam mengajarkan persiapan lahir dan batin, seperti memahami bacaan shalat, menjaga wudhu, menjauhi hal yang melalaikan, serta menghadirkan rasa diawasi Allah (ihsan). Rasulullah ﷺ bersabda, “Beribadahlah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim). Dengan kesadaran ini, shalat tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi sarana mendekatkan diri kepada Allah dan mencegah perbuatan keji dan mungkar.