KEISLAMAN

Dusta dan Celaan Anak Adam kepada Rabb-Nya, Bentuk Penyimpangan Aqidah yang Berbahaya

Yahya Sukamdani| Jum'at, 26/12/2025
Tanpa disadari, ucapan dan keyakinan manusia bisa berubah menjadi dusta dan celaan kepada Allah, sebuah dosa besar yang merusak aqidah. Ilustrasi lafadz Allah

Terasmuslim.com - Al-Qur’an menegaskan bahwa di antara dosa terbesar anak Adam adalah berdusta dan mencela Rabb-nya, baik melalui ucapan, keyakinan, maupun sikap batin. Allah ﷻ berfirman dalam hadits qudsi: “Anak Adam telah mendustakan-Ku, padahal tidak pantas baginya untuk mendustakan-Ku. Dan ia telah mencela-Ku, padahal tidak pantas baginya untuk mencela-Ku.” (HR. Bukhari). Dusta itu berupa pengingkaran terhadap kebangkitan setelah mati, sementara celaan itu berupa anggapan bahwa Allah memiliki anak. Ini menunjukkan bahwa kesalahan aqidah adalah bentuk kezaliman terbesar terhadap Allah.

Dusta anak Adam kepada Rabb-nya tampak ketika manusia meragukan kekuasaan Allah dalam menciptakan dan menghidupkan kembali makhluk-Nya. Allah ﷻ berfirman: “Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami dan melupakan asal kejadiannya; dia berkata, ‘Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur?’” (QS. Yasin: 78). Ayat ini menggambarkan sikap manusia yang mengingkari kemampuan Allah, padahal penciptaan pertama jauh lebih besar daripada mengulanginya.

Adapun celaan anak Adam kepada Allah terjadi ketika manusia menisbatkan sifat yang tidak layak bagi-Nya, seperti mengatakan Allah memiliki anak atau sekutu. Allah ﷻ berfirman: “Dan mereka berkata, ‘Yang Maha Pengasih mengambil (mempunyai) anak.’ Sungguh kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar.” (QS. Maryam: 88–89). Ini adalah bentuk penghinaan terbesar terhadap keesaan dan kesempurnaan Allah, yang bertentangan dengan tauhid rububiyah dan uluhiyah.

Karena itu, Islam menekankan pentingnya menjaga lisan dan keyakinan agar tidak terjerumus dalam dusta dan celaan terhadap Rabb semesta alam. Allah ﷻ berfirman: “Dan tidaklah mereka mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya.” (QS. Al-An’am: 91). Seorang Muslim wajib memurnikan aqidah, membenarkan seluruh kabar dari Allah dan Rasul-Nya, serta mengagungkan Allah dengan tauhid yang lurus, agar selamat dari dosa besar yang dapat menghapus amal dan menjerumuskan ke dalam kebinasaan.

TAGS : dusta kepada Allah celaan kepada Rabb

Terkini