KEISLAMAN

Mengiring Opini Tidak Toleran untuk Melegalkan Toleransi yang Kebablasan

Yahya Sukamdani| Rabu, 24/12/2025
Label “tidak toleran” kerap diarahkan kepada umat Islam yang menjaga prinsip akidah. Padahal Islam mengajarkan toleransi yang berkeadilan, bukan toleransi yang mengorbankan kebenaran dan keyakinan. Ilustrasi hari raya non muslim

Terasmuslim.com - Fenomena pengiringan opini “tidak toleran” sering digunakan untuk menekan umat Islam agar menerima segala bentuk praktik dan pemikiran yang bertentangan dengan ajaran agama. Dalam Islam, toleransi (tasamuh) bukan berarti menyamakan semua kebenaran atau mengaburkan batas akidah. Allah Ta’ala menegaskan: “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku” (QS. Al-Kafirun: 6). Ayat ini menunjukkan sikap toleran dalam hidup berdampingan, namun tetap tegas dalam prinsip keimanan tanpa kompromi terhadap keyakinan.

Islam dengan jelas membedakan antara toleransi sosial dan kompromi akidah. Umat Islam diperintahkan berbuat adil dan berakhlak baik kepada siapa pun, termasuk kepada non-Muslim. Allah berfirman: “Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama” (QS. Al-Mumtahanah: 8). Namun, ketika toleransi diarahkan untuk membenarkan ritual, simbol, atau ajaran yang bertentangan dengan tauhid, di situlah toleransi berubah menjadi tasahul (sikap meremehkan agama).

Rasulullah ﷺ telah memberi teladan tegas dalam menjaga batas toleransi. Beliau hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain di Madinah, tetapi tidak pernah mencampuradukkan ibadah atau akidah. Ketika kaum Quraisy menawarkan kompromi agar saling bergantian menyembah, Allah menurunkan QS. Al-Kafirun sebagai penolakan tegas. Dalam hadis, Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka” (HR. Abu Dawud). Hadis ini menjadi peringatan agar toleransi tidak menjurus pada penyerupaan dalam perkara akidah dan ibadah.

Oleh karena itu, pengiringan opini “tidak toleran” untuk melegalkan “toleransi yang kebablasan” perlu disikapi dengan ilmu dan kebijaksanaan. Islam mengajarkan umatnya untuk bersikap lembut dalam muamalah, namun kokoh dalam prinsip. Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya” (QS. Al-Isra: 36). Toleransi sejati menurut Islam adalah menjaga kedamaian sosial tanpa menggadaikan kebenaran, serta berdiri teguh di atas akidah dengan akhlak yang mulia.

Baca juga :
TAGS : toleransi dalam Islam batas toleransi Islam

Terkini