
Ilustrasio foto tahlilan
Terasmuslim.com - Tahlilan adalah kegiatan membaca tahlil, doa, dan ayat Al-Qur’an yang ditujukan untuk mayit. Secara substansi, doa untuk orang yang meninggal dianjurkan dalam Islam. Rasulullah ﷺ bersabda: “Mintakanlah ampun untuk saudara kalian dan mohonkan keteguhan baginya” (HR. Abu Dawud). Namun, penentuan waktu khusus seperti 3, 7, atau 40 hari tidak pernah dicontohkan oleh Nabi ﷺ maupun para sahabat.
Sejarah menunjukkan bahwa penetapan hari-hari tersebut berasal dari tradisi pra-Islam. Dalam kajian sejarah, angka 3, 7, dan 40 dikenal dalam budaya Hindu-Buddha dan kepercayaan lokal Nusantara sebagai penanda fase kematian. Ketika Islam menyebar, tradisi tersebut mengalami akulturasi dengan unsur doa-doa Islam, lalu dikenal sebagai tahlilan.
Al-Qur’an sendiri tidak menetapkan hari tertentu untuk mendoakan orang yang wafat. Allah ﷻ hanya memerintahkan doa bagi kaum mukminin, baik yang hidup maupun yang telah meninggal, sebagaimana firman-Nya: “Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu” (QS. Al-Hasyr: 10). Ayat ini bersifat umum, tanpa pengkhususan waktu.
Karena itu, para ulama berbeda pendapat: sebagian membolehkan tahlilan sebagai tradisi sosial dan sarana doa, selama tidak diyakini sebagai kewajiban agama; sementara yang lain menolaknya karena tidak ada contoh dari Nabi ﷺ. Sikap bijak adalah menghormati perbedaan, tidak menganggapnya sebagai syariat baku, dan tetap memprioritaskan doa yang sesuai tuntunan Islam.
TAGS : tahlilan 3 7 40 hari sejarah tahlilan