
Ilustrasi nama Allah
Terasmuslim.com - Dalam aqidah Islam, Allah wajib disifati dan disebut dengan nama dan sifat yang Dia tetapkan sendiri dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Allah berfirman, “Dan Allah memiliki Asmaul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu” (QS. Al-A’raf: 180). Kata “semesta” pada hakikatnya adalah makhluk ciptaan Allah, bukan nama atau sifat-Nya. Mengganti penyebutan Allah dengan istilah yang tidak berasal dari wahyu berpotensi menimbulkan kekeliruan dalam memahami tauhid.
Secara bahasa, “semesta” merujuk pada seluruh alam yang diciptakan: langit, bumi, dan segala isinya. Dalam Al-Qur’an, Allah justru dipisahkan secara tegas dari makhluk-Nya, sebagaimana firman-Nya, “Allah adalah Pencipta segala sesuatu” (QS. Az-Zumar: 62). Jika Allah disebut sebagai “semesta”, maka ini bisa mengarah pada pemahaman bahwa Allah menyatu dengan alam, sebuah konsep yang mendekati paham pantheisme, yang bertentangan dengan aqidah Islam tentang keesaan dan ketinggian Allah di atas seluruh makhluk-Nya.
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan adab berdoa dan menyebut Allah dengan nama yang benar. Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, barang siapa menghafalnya maka ia masuk surga” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menunjukkan bahwa nama-nama Allah bersifat tauqifiyah, yaitu harus berdasarkan dalil, bukan hasil kreasi rasa bahasa atau ungkapan sastra, seindah apa pun terdengarnya.
Karena itu, meski penggunaan kata “semesta” terdengar puitis dan bernuansa spiritual, seorang Muslim perlu berhati-hati agar tidak terjatuh pada kekeliruan aqidah. Islam tidak melarang keindahan bahasa, namun menuntut ketepatan dalam tauhid. Menyebut Allah dengan nama dan sifat yang shahih adalah bentuk pengagungan kepada-Nya. Allah berfirman, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. Asy-Syura: 11). Maka, menjaga kemurnian penyebutan Allah adalah bagian dari menjaga kemurnian iman.